Selasa, 12 Juli 2016

Dipaksa Harus Beli Tiket



Ada cerita tercecer dari Festival Film Fantasi Puchon (PiFan) 2011. Kejadian ini dialami oleh aktris Cathy Sharon seperti dituturkan oleh produser Vera Lasut. Mereka berangkat ke negeri ginseng Juli 2011 dalam rangka premiere filmnya di sana yang bertajuk The Perfect House.

Jadi ceritanya setibanya mereka di lokasi ID card belum tersedia. Rupanya persiapan panitia setempat masih kurang rapi. Kondisi ini menjadi lebih parah lagi, lantaran banyak dari panitia yang tak paham bahasa Inggris. Maka komunikasi pun dilakukan dalam bahasa Tarzan. Tunggu punya tunggu, hingga sesaat sebelum pemutaran film dimulai kartu identitas itu masih belum bisa diperoleh.

Nah, yang bikin repot, orang Korea sendiri dikenal disiplin. Mereka tak akan mengizinkan siapapun masuk bioskop Primus Cinema Sopong tanpa tiket atau tanda pengenal. Akhirnya, terpaksa Vera dan Cathy masuk ruang pertunjukan dengan membeli tiket seharga 4000 won (atau sekitar Rp 32.000).

Bukan nilai uang itu yang menjadi keberatan keduanya saat itu. Masalahnya, ini film hasil keringat mereka. Jelas-jelas milik mereka. “Gila ya... Ini kan premiere film gue. Kok malah beli tiket ya'," ucap Vera menirukan kata-kata Cathy yang menahan rasa keki.



Juli 2011

Jumat, 08 Juli 2016

Rahasia di Balik Suara Azan



Di tengah maraknya produksi film Indonesia, ada pula yang merupakan hasil kerjasama dengan produser dari mancanegara. Salah satunya adalah The Killers, arahan Kimo Stamboel dan Timothy Tjahjanto alias Mo Brothers. Ini merupakan proyek kolaborasi antara Guerilla Merah Films dengan Nikkatsu dari Jepang. Awal 2014, film ini diputar di bioskop tanah air.

Bulan Februari diadakan konferensi pers film ini di sebuah hotel dekat Sarinah Thamrin. Rupanya pada kesempatan itu diputar pula teaser trailernya di hadapan wartawan dan dibuat dalam beberapa versi, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Ada-ada saja pertanyaan mereka.  

“Itu kenapa ada adegan yang memunculkan suara azan? Apakah film ini coba dimaksudkan untuk menjadi film religi?” demikian tanya salah satunya.

“Begini, itu dimaksudkan sebagai penanda kota. Kota Tokyo misalnya, suara yang khas di sana itu bunyi kereta atau burung gagak. Nah, apa yang kira-kira lekat dengan kota Jakarta? Ya, suara azan inilah,” demikian tutur Timothy Tjahjanto kalem.

Eh, tiba-tiba dia meneruskan kalimatnya,”Sebenarnya di lapangan itu ada suara Kimo sih lagi teriak ‘cut…cut…cut’. Bocor kan. Ya, terus kita tutup aja pakai suara azan…”



Februari 2014

Jumat, 01 Juli 2016

Papa Datang



Aktris Acha Septriasa kembali diajak kerja bareng sutradara Monty Tiwa dalam proyek Sabtu Bersama Bapak. Film lebaran 2016 ini selain menuntut kemampuan akting Acha yang sudah teruji juga memaksanya belajar hal baru, yakni bahasa Perancis. Apakah Aktris Terbaik FFI 2012 ini benar-benar bisa berbahasa Perancis?

“Ah, dialog itu sesuai skrip kok mas…,” selorohnya dalam kesempatan konferensi pers usai pemutaran filmnya di Epicentrum, 1 Juli 2016.

Dengan jujur, Acha mengaku hanya latihan sebentar untuk belajar dialog tersebut. Kemudian dia malah menunjuk pemeran anaknya dalam film itu justru lebih fasih berbahasa Perancis dan merekomendasikan untuk belajar kepadanya. Maklum, bocah yang dimaksud memang berayah Perancis dan ibu Indonesia. Ya, Acha sendiri memang tidak bisa berbahasa Perancis.

“Ada kejadian unik. Jadi dalam film ada dialog ‘Papa est arrive, papa est arrive…’. Saya bingung, kok anak ini menyebut-nyebut nama Arifin… Saya tanya sama dia ‘kok kamu menyebut nama itu?’…” tutur perempuan berzodiac Virgo ini. Arifin yang dimaksud adalah Arifin Putra, lawan mainnya di sana.

Sutradara Monty Tiwa turut pula membenarkan keheranan itu. Pasalnya, hari itu memang tak ada callingan syuting untuk Arifin. Kru yang ada di lokasi pun tak kalah takjubnya. Kok, bisa-bisanya anak-anak itu menyebut nama pemeran ayahnya.

Setelah itu Acha diterangkan bahwa baris kalimat tersebut artinya ‘Papa datang…’ bukan seperti yang dikira sebelumnya ‘Papa Arifin…’.
 


2 Juli 2016

Senin, 27 Juni 2016

Makna Kata Parlemen



Kegiatan syuting film itu menyenangkan. Namun kadang-kadang rasa bosan muncul saat menanti giliran take. Nah, pada saat seperti itu para aktor melakukan aneka kegiatan untuk mengusir iseng, berkelakar misalnya. Salah satu yang cukup lincah dalam melontarkan canda adalah pelakon senior Rudy Wowor.

Ketika dijumpai di lokasi syuting Merah Putih, sutradara Yadi Sugandi baru saja meneriakkan cut untuk adegan yang dimainkan Rudy bareng pemain lain. Pria kelahiran Amsterdam ini berperan sebagai Van Gaardner, seorang perwira menengah di pihak londo. Gedung Lawang Sewu di jantung kota Semarang dipilih sebagai markas komandonya.

Obrolan ngalor ngidul terlontar begitu saja saat Rudy menyempatkan diri untuk nongkrong sejenak. Sambil menyalakan rokok spesialis peran tentara londo ini bercerita sedikit tentang porsi perannya. Topiknya macam-macam pula.

”Pangkat saya Mayor. Di atasnya masih ada lagi kolonel,” demikian pria jago menari ini menerangkan posisinya dengan logat bule macam yang biasa muncul di sandiwara 17 Agustusan di kelurahan.

Selanjutnya dia membocorkan bagaimana pembicaraannya dengan Sersan Yanto. Nah, Yanto ini adalah serdadu di pihak republikein yang dimainkan aktor Ario Bayu. Entah bagaimana ceritanya rumpian ini ujungnya malah menyebut-nyebut tentang kinerja anggota parlemen.

”Anda tahu asal kata parlemen?” sodor Rudy kepada kami. Pertanyaan ini membuat para wartawan berpikir keras mencari tahu apa jawabannya. Sejurus kemudian kami sudah dibuatnya menyerah.  

”Itu berasal dari bahasa Perancis, parler dan mentir,” begitu jawabnya. ”Parler itu artinya bicara dan mentir itu berbohong. Jadi parlemen artinya berkata bo...,” lanjut Rudy sambil meletakkan telapak tangan untuk menutup mulutnya.


 
Maret 2009 

Kamis, 23 Juni 2016

Pemain yang Berbulu



April 2007, sutradara Joko Anwar menuntaskan produksi film keduanya yang bertajuk Kala. Ini sebuah proyek bergenre thriller yang dibintangi oleh Fachry Albar, Ario Bayu, Shanty, dan Fahrani. Sementara investornya adalah Manoj Punjabi. Senja itu kalangan wartawan diundang untuk menyaksikan tayangan terbatas di kantor MD Pictures di kawasan Tanah Abang II. Kemudian dilanjutkan dengan konferensi pers.

Setelah membuka prolog dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. “Oke, ada teman-teman wartawan yang mau bertanya?” begitu tawaran dari moderator.

Beberapa komentar pun berdatangan, mulai dari yang memuji-muji sampai yang mengaku tidak mengerti konten filmnya. Hingga kemudian muncul pula pertanyaan bernada sedikit antik keluar dari mulut seorang rekan.

“Terimakasih. Saya mau tanya, ini kenapa pemainnya kok berbulu semua?” tukasnya dengan nada penasaran. Pemain utamanya, baik Fachry maupun Ario memang lumayan berbulu lebat.

Semua yang hadir tertawa dibuatnya. Sementara Joko pun hanya bisa ternganga mendengarnya.

 \

Mei 2007