Tampilkan postingan dengan label premiere. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label premiere. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Mei 2018

Akibat Rasa Gemas

Siang itu, Jumat akhir April 2018, ramai orang berdatangan di lobi bioskop Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan. Mereka, umumnya masih usia remaja. Tujuannya sama-sama menyaksikan pemutaran film horor Sajen. Tentu saja ini pemutaran khusus atau premiere untuk kalangan terbatas. Dengan teratur mereka membentuk antrean untuk mendapatkan tanda masuk bioskop.

Saya berdiri menanti pemutaran dimulai. Santai sejenak dekat loket pembelian tiket bersama seorang rekan wartawan. Tiba-tiba produser Chand Parwez Servia melintas di depan kami dan dengan ramah menyalami kami satu-persatu.

“Wah, balik ke genre horor lagi, pak...” celetuk saya.

“Ya. Habisnya terasa gemas juga,” selorohnya dengan wajah santai.

“Kok gemas?” saya sambar lagi.

“Ya, selain memang sekarang zamannya film horor, di IBOMA kemarin yang menang malah Pengabdi Setan. Film Susah Sinyal  sampai kalah. Ya sudah, saya coba masuk horor lagi deh. Lagi pula Hanny Saputra sutradaranya kan pernah banyak bikin film sama saya,” tuturnya penasaran.

“Jadi mau coba icip-icip kue horor karena gemas pak ya... “

“Ya kira-kira begitu.”   


30 April 2018

Selasa, 12 Juli 2016

Dipaksa Harus Beli Tiket



Ada cerita tercecer dari Festival Film Fantasi Puchon (PiFan) 2011. Kejadian ini dialami oleh aktris Cathy Sharon seperti dituturkan oleh produser Vera Lasut. Mereka berangkat ke negeri ginseng Juli 2011 dalam rangka premiere filmnya di sana yang bertajuk The Perfect House.

Jadi ceritanya setibanya mereka di lokasi ID card belum tersedia. Rupanya persiapan panitia setempat masih kurang rapi. Kondisi ini menjadi lebih parah lagi, lantaran banyak dari panitia yang tak paham bahasa Inggris. Maka komunikasi pun dilakukan dalam bahasa Tarzan. Tunggu punya tunggu, hingga sesaat sebelum pemutaran film dimulai kartu identitas itu masih belum bisa diperoleh.

Nah, yang bikin repot, orang Korea sendiri dikenal disiplin. Mereka tak akan mengizinkan siapapun masuk bioskop Primus Cinema Sopong tanpa tiket atau tanda pengenal. Akhirnya, terpaksa Vera dan Cathy masuk ruang pertunjukan dengan membeli tiket seharga 4000 won (atau sekitar Rp 32.000).

Bukan nilai uang itu yang menjadi keberatan keduanya saat itu. Masalahnya, ini film hasil keringat mereka. Jelas-jelas milik mereka. “Gila ya... Ini kan premiere film gue. Kok malah beli tiket ya'," ucap Vera menirukan kata-kata Cathy yang menahan rasa keki.



Juli 2011