Tampilkan postingan dengan label drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label drama. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 April 2018

Tak Tahu Ada Hiu



Akhir Maret 2018, rumah produksi Demi Istri Film menyiapkan proyek terbarunya Terbang Menembus Langit. Film arahan sutradara Fajar Nugros ini rencananya akan diputar di bioskop pada bulan berikutnya. Namun proses promosi sudah dilakukan jauh hari, di antaranya berupa roadshow ke kampus-kampus. Formatnya semacam dialog dengan para mahasiswa yang menjadi target penontonnya.

Siang itu digelar bincang-bincang di kampus Universitas Tarumanegara, kawasan Grogol, Jakarta Barat. Selain produser Susanti Nugros, sejumlah bintang hadir seperti Dion Wiyoko, Aline Adita, Marcel Darwin, dan beberapa komika. Mereka menceritakan pengalamannya selama proses produksi di kota Tarakan, Kalimantan Utara. Erick Estrada menjadi salah satu pelakon yang menuturkan kisah menarik.

“Ceritanya ada adegan saya naik kapal dan berdiri di ujung kapal seperti Jack Sparrow. Tiba-tiba saya jatuh ke laut. Aduh, berenanglah saya sampai ke ujung dermaga,” tutur pria asal Yogyakarta ini dengan penuh semangat.

“Pas sampai di dermaga saya didatangi sama nelayan di sana. Sambil berkerubung, kelihatan kagum gitu... Terus komentar ‘Wah, mas, kok berani sih berenang di laut sebelah sini. Di sana kan banyak hiu martilnya. Nelayan sini kalau melaut agak ke sebelah sana’...” ucapnya menyitir obrolan waktu itu.

Erick pun melanjutkan ceritanya,“Akhirnya, saya cuma bisa protes sama orang lokasi. Aduh mas, saya punya anak. Saya belum kepingin anak saya jadi anak yatim. Bilang-bilang kek kalau di laut sini banyak hiunya..”

Mahasiswa yang hadir pun tertawa tergelak dibuatnya.



22 Maret 2018

Kamis, 27 Oktober 2016

Banyak Adegan Medis



Buku hasil karya Ferdiriva Hamzah Cado Cado alias Catatan Dodol Calon Dokter  laris terjual. Tak pelak, banyak rumah produksi berlomba mengadaptasinya ke layar lebar. Adalah Radikal Films yang sukses meminang karya dokter spesialis mata tersebut. Dibantu pendanaan dari perusahaan Korea, jadilah proyek tersebut dieksekusi. 

Di luar dugaan, film ini lolos sensor namun untuk kategori usia 17 tahun ke atas. Tentu saja ini mengundang pertanyaan khalayak. Apa gerangan yang mendorong pihak sensor memasukkan film ini dalam kategori usia dewasa.

“Kita kaget juga dengan keputusan itu. Kita sih berharap tadinya bisa lolos untuk kategori usia 13 tahun. Argumen mereka di sini bukan karena ada adegan ciuman, tapi karena banyak adegan operasi, bedah, dan  medis..,” tutur produser Ardiansyah Solaiman saat konferensi pers pertengahan Oktober 2016.

“Jangan lupa, ciuman itu sendiri juga termasuk medis,” balas sutradara Ifa Isfansyah tanpa menjelaskan apa maksudnya.

“Iya ya... Habis ciuman efeknya bisa masuk rumah sakit bersalin,” seloroh MC Imam Wibowo yang sehari-harinya penyiar radio seolah tak mau kalah.



20 Oktober 2016

Kamis, 13 Oktober 2016

Ditanya Sendiri Dijawab Sendiri



Film Pinky Promise berkisah tentang balada perempuan penyintas kanker payudara. Para pemainnya seperti Agni Prathista dan Dhea Seto merelakan rambutnya dicukur habis demi tuntutan peran. Namun tidak semua pemain melakukannya. Tentu saja ini menimbulkan pertanyaan dari kalangan wartawan.

“Kok hanya mereka berdua saja yang dibotaki? Bagaimana dengan pemain lainnya?” tanya rekan dari media online tersebut dalam jumpa pers pada Rabu 5 Oktober 2016 di bioskop Plaza Senayan, Jakarta Pusat.

Aktris Alexandra Gottardo dengan lantang menjawab,”Ini proses syutingkan selesainya bulan Desember ya, sedangkan bulan Januari saya mau menikah. Pakai adat Jawa, pakai paes. Masak saat pernikahan, rambut pengantin perempuannya gundul? Ibu saya nggak kasihlah...”

Kemudian jawaban berbeda disodorkan oleh pemain lainnya, Dea Ananda. “Jadi, sebelum syuting saya ditanya sama produser,’mau ikut dibotakin nggak’... Saya masih mikir...hmm... Eh tak lama kemudian mereka bilang eh nggak usah deh. Soalnya kan kamu botaknya hanya satu scene. Sisanya kamu pakai hijab...,” tutur mantan penyanyi cilik ini menyitir apa yang dia dengar saat itu.

Ditanya sendiri. Dijawab sendiri.


6 Oktober 2016

Kamis, 18 Agustus 2016

Hasil Operasi Plastik



Indonesia pertama kali ikut Olimpiade 1952 di Helsinki, Finlandia. Setelah puluhan tahun berpartisipasi, akhirnya kontingen Indonesia sukses meraih medali pertamanya di Olimpiade Seoul 1988. Adalah trio Nurfitriyana, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardani yang meraih perak di nomor beregu putri cabang panahan.

Tahun 2015 kisah heroik ini diadaptasi ke layar lebar oleh produser Raam Punjabi lewat bendera MVP Pictures. Disutradarai Iman Brotoseno, film ini memasang bintang papan atas Bunga Citra Lestari, Tara Basro, dan Chelsea Elisabeth Islan dengan judul 3 Srikandi. 

Pertengahan April 2016, diadakan peluncuran trailernya di bioskop Plaza Indonesia XXI. Hadir di sana para pemain, sutradara dan juga trio srikandi Olimpiade 1988 yang asli. Satu demi satu mereka diperkenalkan kepada para wartawan dipandu oleh MC kocak Arie Untung.  

Arie mempersilakan trio pemain film berdiri, disusul kemudian trio atlet Olimpiade yang ada di barisan belakangnya. “Nah, ini dia para atlet Olimpiade peraih medali pertama untuk Indonesia. Mereka berangkat ke Seoul sekalian operasi plastik. Dan hasilnya, bisa anda saksikan yang ada di depan ini…” tutur sang MC seraya menunjuk trio BCL-Tara-Chelsea.  

Hadirin pun tertawa dibuatnya.



20 April 2016

Jumat, 01 Juli 2016

Papa Datang



Aktris Acha Septriasa kembali diajak kerja bareng sutradara Monty Tiwa dalam proyek Sabtu Bersama Bapak. Film lebaran 2016 ini selain menuntut kemampuan akting Acha yang sudah teruji juga memaksanya belajar hal baru, yakni bahasa Perancis. Apakah Aktris Terbaik FFI 2012 ini benar-benar bisa berbahasa Perancis?

“Ah, dialog itu sesuai skrip kok mas…,” selorohnya dalam kesempatan konferensi pers usai pemutaran filmnya di Epicentrum, 1 Juli 2016.

Dengan jujur, Acha mengaku hanya latihan sebentar untuk belajar dialog tersebut. Kemudian dia malah menunjuk pemeran anaknya dalam film itu justru lebih fasih berbahasa Perancis dan merekomendasikan untuk belajar kepadanya. Maklum, bocah yang dimaksud memang berayah Perancis dan ibu Indonesia. Ya, Acha sendiri memang tidak bisa berbahasa Perancis.

“Ada kejadian unik. Jadi dalam film ada dialog ‘Papa est arrive, papa est arrive…’. Saya bingung, kok anak ini menyebut-nyebut nama Arifin… Saya tanya sama dia ‘kok kamu menyebut nama itu?’…” tutur perempuan berzodiac Virgo ini. Arifin yang dimaksud adalah Arifin Putra, lawan mainnya di sana.

Sutradara Monty Tiwa turut pula membenarkan keheranan itu. Pasalnya, hari itu memang tak ada callingan syuting untuk Arifin. Kru yang ada di lokasi pun tak kalah takjubnya. Kok, bisa-bisanya anak-anak itu menyebut nama pemeran ayahnya.

Setelah itu Acha diterangkan bahwa baris kalimat tersebut artinya ‘Papa datang…’ bukan seperti yang dikira sebelumnya ‘Papa Arifin…’.
 


2 Juli 2016