Tampilkan postingan dengan label manoj punjabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manoj punjabi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juni 2016

Pemain yang Berbulu



April 2007, sutradara Joko Anwar menuntaskan produksi film keduanya yang bertajuk Kala. Ini sebuah proyek bergenre thriller yang dibintangi oleh Fachry Albar, Ario Bayu, Shanty, dan Fahrani. Sementara investornya adalah Manoj Punjabi. Senja itu kalangan wartawan diundang untuk menyaksikan tayangan terbatas di kantor MD Pictures di kawasan Tanah Abang II. Kemudian dilanjutkan dengan konferensi pers.

Setelah membuka prolog dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. “Oke, ada teman-teman wartawan yang mau bertanya?” begitu tawaran dari moderator.

Beberapa komentar pun berdatangan, mulai dari yang memuji-muji sampai yang mengaku tidak mengerti konten filmnya. Hingga kemudian muncul pula pertanyaan bernada sedikit antik keluar dari mulut seorang rekan.

“Terimakasih. Saya mau tanya, ini kenapa pemainnya kok berbulu semua?” tukasnya dengan nada penasaran. Pemain utamanya, baik Fachry maupun Ario memang lumayan berbulu lebat.

Semua yang hadir tertawa dibuatnya. Sementara Joko pun hanya bisa ternganga mendengarnya.

 \

Mei 2007

Kamis, 26 Mei 2016

Nama Baru Sang Sineas


Tidak semua rumah produksi menyediakan waktu untuk konferensi pers film buatannya. Penyebabnya macam-macam dan biasanya sangat teknis. Namun, proses wawancara tetap harus dilakukan, entah bagaimanapun caranya. Itu prinsip yang saya pegang.

Salah satunya ketika saya menulis tentang film Merem Melek di tahun 2008. Film komedi ini dibuat oleh Mitra Pictures yang saat itu tidak pernah memberikan kesempatan preview film untuk wartawan. Konon rumah produksi ini berafiliasi dengan MD Pictures, namun dibantah produser Manoj Punjabi saat dikonfirmasi.

Kebetulan saya sudah pernah melakukan wawancara dengan penulis skenarionya, Viva Westi. Jadi, tinggal angkat telepon saja. Kami pun ngobrol panjang lebar seputar proses kreatifnya. Ujung-ujungnya saya minta nomor kontak sutradara film ini, yakni Ian Jacobs. Ternyata jawabannya sungguh mengejutkan.

“Telepon aja Nayato,” ucap Westi dari seberang sana.

“Kok Nayato?” tanya saya dengan nada heran.

“Iya. Nomor Ian Jacobs sama kok dengan nomor Nayato,” lanjutnya kalem.  

Kontan saya terbengong-bengong dibuatnya. 



2008