Tampilkan postingan dengan label biopic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biopic. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2016

Hasil Operasi Plastik



Indonesia pertama kali ikut Olimpiade 1952 di Helsinki, Finlandia. Setelah puluhan tahun berpartisipasi, akhirnya kontingen Indonesia sukses meraih medali pertamanya di Olimpiade Seoul 1988. Adalah trio Nurfitriyana, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardani yang meraih perak di nomor beregu putri cabang panahan.

Tahun 2015 kisah heroik ini diadaptasi ke layar lebar oleh produser Raam Punjabi lewat bendera MVP Pictures. Disutradarai Iman Brotoseno, film ini memasang bintang papan atas Bunga Citra Lestari, Tara Basro, dan Chelsea Elisabeth Islan dengan judul 3 Srikandi. 

Pertengahan April 2016, diadakan peluncuran trailernya di bioskop Plaza Indonesia XXI. Hadir di sana para pemain, sutradara dan juga trio srikandi Olimpiade 1988 yang asli. Satu demi satu mereka diperkenalkan kepada para wartawan dipandu oleh MC kocak Arie Untung.  

Arie mempersilakan trio pemain film berdiri, disusul kemudian trio atlet Olimpiade yang ada di barisan belakangnya. “Nah, ini dia para atlet Olimpiade peraih medali pertama untuk Indonesia. Mereka berangkat ke Seoul sekalian operasi plastik. Dan hasilnya, bisa anda saksikan yang ada di depan ini…” tutur sang MC seraya menunjuk trio BCL-Tara-Chelsea.  

Hadirin pun tertawa dibuatnya.



20 April 2016

Selasa, 19 Juli 2016

Cari Saja di Mesjid



Sutradara Hanung Bramantyo sudah berkali-kali membuat film biografi (lebih dikenal dengan biopic) dari tokoh-tokoh besar Indonesia. Mulai dari riwayat KH Ahmad Dahlan, Soekarno, hingga yang baru diputar saat lebaran BJ Habibie. Setelah sempat tertunda, Hanung mulai menyiapkan proyek biopic terbarunya. Kali ini mengenai kisah pahlawan emansipasi asal Jepara, Kartini.

“Bicara tentang film biopic adalah bicara soal subjektivitas. Di sana tidak ada perkara benar atau salah,” tuturnya ketika memperkenalkan film ini kepada wartawan di lounge Djakarta Theater XXI, 14 Juli 2016.

Rupanya lelaki asal Yogyakarta ini masih merasa trauma atas peristiwa yang dialami filmnya Sang Pencerah saat pengumuman Festival Film Indonesia 2010. Ketika itu Komite Seleksi FFI tidak meloloskan filmnya masuk daftar nominasi lantaran dianggap kurang akurat. Alhasil, film tentang tokoh pendiri Muhammadiyah itu mesti kandas di babak awal.  

“Subjektivitas seharusnya dilawan dengan subjektivitas yang lain,” komentarnya dengan wajah serius. “Kalau mau mencari mana yang benar atau salah, sebaiknya cari di mesjid saja…”


18 Juli 2016