Senin, 02 April 2018

Jejak Chrisye dalam Sinema Indonesia


Sebelas tahun lalu penyanyi legendaris Raden Chrismansyah Rahadi alias Chrisye tutup usia. Kepergiannya bertepatan dengan Hari Film Nasional, 30 Maret 2007. Kendati lebih dikenal di ranah musik lewat kepiawaiannya dalam bidang tarik suara, ternyata nama besar almarhum banyak meninggalkan jejak dalam blantika sinema Indonesia. Pasalnya, Chrisye sempat terlibat dalam sejumlah proyek layar lebar di tanah air. Menariknya, semua itu dilakoni dengan kiprah yang berbeda-beda, mulai dari membawakan lagu soundtrack, menata musik, bahkan sampai berakting segala. Film apa sajakah yang dimaksud?

Badai Pasti Berlalu
Setelah sempat beberapa tahun berkiprah dalam Gipsy Band, Chrisye memulai karier solonya pada 1977. Saat itu hoki pertamanya datang ketika membawakan tembang karya James F Sundah yang berjudul Lilin-lilin Kecil. Lagu ini masuk dalam album Lomba Karya Cipta Lagu Remaja yang diselenggarakan oleh Radio Prambors dan meledak di pasaran. 

Masih di tahun yang sama, Chrisye terlibat proyek legendaris Badai Pasti Berlalu. Ini merupakan album studio yang memuat lagu tema untuk film bertajuk serupa arahan sutradara Teguh Karya. Lagu-lagu yang terdapat di dalamnya diproduseri oleh Eros Djarot. Tata musik digarap oleh Yockie Soerjoprajogo, sedangkan Chrisye membawakan nyaris seluruh tembang yang ada dalam album ini dibantu oleh Berlian Hutauruk.

Saking legendarisnya, album ini masuk pada peringkat pertama dalam daftar 50 Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia edisi Desember 2007. Rupanya lantunan suara Chrisye sungguh akrab dan begitu melekat di benak banyak orang. Sedangkan Badai Pasti Berlalu dianggap sebagai idiom yang membakar semangat untuk tidak mudah menyerah.

Bagaimana dengan filmnya? Ternyata Badai Pasti Berlalu mendapatkan sambutan meriah dari publik. Laman filmindonesia.or.id mencatat proyek yang diproduseri oleh Sudwikatmono (saat itu belum menjadi raja bioskop) ini menduduki posisi kedua sebagai film terlaris di Jakarta. Menurut data Perfin tak kurang ada 212.551 helai karcis yang terjual di bioskop Jakarta. Rupanya nama bintang top macam Roy Marten, Christine Hakim, hingga Slamet Rahardjo cukup membuat penasaran khalayak.

Sepuluh tahun kemudian, film ini dibuat kembali oleh sutradara Teddy Soeriaatmadja. Bintang muda Vino G Bastian dan Raihaanun dipasang sebagai pemain utamanya. Sayang sekali proyek tersebut kandas di bioskop tanah air. Nasibnya tidak seberuntung film versi aslinya. Sedangkan album yang berisi lagu-lagu Chrisye macam Badai Pasti Berlalu atau Merpati Putih kembali didaur ulang oleh penyanyi era 2000-an seperti Ari Lasso dan Astrid. Chrisye sendiri tidak terlibat sama sekali dalam proyek yang digarap oleh komposer Andi Rianto ini.

Berakting di Film
Diam-diam suami dari Yanti Noor ini tidak hanya sekadar piawai bernyanyi. Sekali-sekali, Chrisye unjuk kebolehan untuk ikutan tampil berlakon di layar lebar. Salah satunya seperti yang dia tunjukkan dalam film Seindah Rembulan karya sutradara Syamsul Fuad. Menurut wikipedia film ini dirilis pada 1980, sedangkan JB Kristanto mencatat rilis pada 1981.

Boleh jadi film ini merupakan monumen untuk melongok sosok Chrisye yang aslinya pendiam dan sedikit kaku. Berakting bersama penyanyi Iis Sugianto dan Lidya Kandou dia malah tampak tampil lepas. Mungkin lantaran karakter yang dimainkan tak jauh-jauh juga dari dunia musik, faktor ini membuat penampilannya terasa alami dan sedap ditonton.  

Film ini sendiri memang terasa kental atmosfer musiknya, maklumlah produsernya memang seorang pencipta lagu kondang, Rinto Harahap. Rinto pula yang menulis skenarionya bersama Deddy Armand. Album soundtrack yang menjadi pengiring film ini menampilkan tembang andalan Seindah Rembulan dibawakan duet Chrisye dan Iis. Pengamat musik Denny Sakrie menyebut mereka sebagai duet yang absurd, karena memang keduanya memiliki warna musik jauh berbeda. Iis biasa membawakan tembang melankolis, sebaliknya Chrisye dikenal dengan pop kreatif.

Selain duet bersama Iis, Chrisye juga tampil solo dengan lagu  Dewi Mayang serta tembang legendaris Sabda Alam. Sejumlah penyanyi top pada masa itu juga ikut berpartisipasi dalam proyek ini seperti Grace Simon, Christine Panjaditan, dan Mariyance Mantouw.

Pada album ini, Chrisye juga menjadi penata musik bersama sang produser Rinto Harahap. Yockie Soejoprajogo batal mendukung album ini, pasalnya dia merasa tak ada kecocokan secara visi musiknya. Akhirnya Chrisye pun turun tangan dan melakukan kompromi untuk berduet dengan biduanita spesialis lagu melankolis. Komprominya begini: tembang Seindah Rembulan ciptaan Rinto Harahap sedangkan tata musiknya digarap oleh Chrisye sendiri.

Sayang sekali, tidak ada data jumlah penonton untuk film ini. Laman wikipedia hanya menyebutkan bahwa film ini diluncurkan pada tahun 1980 dan meraih kesuksesan. Satu catatan menarik dari proyek film ini adalah Chrisye pernah berkolaborasi dengan pencipta lagu melankolis sekaliber Rinto Harahap, namun Chrisye tetap bertahan pada warna musik yang menjadi ciri khasnya. 

Film Biopic
Masih tentang film terkait Chrisye, kabar mengejutkan datang pada awal Maret 2017.  Rumah produksi MNC Pictures melansir berita akan menggarap film biopic Chrisye setelah mengantungi restu dari istri almarhum Yanti Noor. Aktor beken Vino G Bastian ditunjuk sebagai Chrisye sedangkan Velove Vexia memainkan karakter Yanti. Kemudian Rizal Mantovani ditunjuk sebagai sutradaranya.

Yanti memberikan kepercayaan kepada Alim Sudio untuk menulis skenarionya. Sebuah kisah kilas balik ketika Chrisye meretas kariernya di ranah musik dan mendapatkan penolakan dari sang ayah. Gaya penulisannya sesekali jenaka, terutama ketika menggambarkan sosok Chrisye yang acapkali kikuk apalagi ketika berhadapan dengan Yanti. Selebihnya Alim mengupas figur Chrisye lebih kontemplatif, mengajak kita merenung, dan terasa dalam.  

Upaya Vino untuk membawakan karakter ini lumayan serius. Selain meniru gestur, dia harus berambut gondrong dan memasang rahang palsu di dokter gigi. Semua itu dilakukan Vino agar mendapatkan kemiripan dengan karakter Chrisye.

“Dari Vino saya mendapatkan rekan kerja yang sangat paham mengenai bagaimana menerjemahkan skrip menjadi baik. Itu yang membuat saya senang sekali,” tukas Rizal dalam jumpa pers di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, September 2017 lalu.
 
Pujian serupa juga datang dari Ferry Mursyidan Baldan, mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN RI, yang juga Ketua Komunitas Kangen Chrisye (K2C). Dia melihat Vino banyak melakukan riset serius dalam rangka pendalaman karakter. “Vino bilang ke saya, dia membaca buku yang saya terbitkan, Chrisye di Mata Media, Sahabat dan Fans, untuk menangkap lebih detail sosok Chrisye,” tukas pria kelahiran 16 Juni 1961 ini.

Menurutnya yang lebih penting untuk karakter Chrisye bukan perkara kemiripan wajah, melainkan lebih pada soal penjiwaan. “Sebagai penggemar, buat saya, siapapun yang main tidak masalah. Yang penting filmnya sudah jadi dan siap beredar,” ucap Ferry antusias.

Sambutan publik terhadap film ini terhitung lumayan baik. Dilabeli untuk usia 13 tahun, selama tiga pekan pemutaran sejak 7 Desember 2017 karcis yang terjual di bioskop mencapai 204.161 helai. Selain antusiasme masyarakat yang masih mencintai sosok Chrisye, hasil ini juga dicapai berkat upaya komunitas penggemar seperti yang dipelopori oleh Ferry misalnya.    

Penutup
Ketiga film di atas sungguh melekat dengan imaji Chrisye. Menyebut Badai Pasti Berlalu misalnya, orang tak hanya diingatkan pada sutradara maestro Teguh Karya, tapi juga pada lagu milik Chrisye yang bersuara serak-serak basah. Kemudian ketika menonton Seindah Rembulan orang dibuat semakin gemas melihat akting Chrisye yang apa adanya di sana. Apalagi versi biopic dari Rizal Mantovani dengan sosok Chrisye yang dibawakan Vino G Bastian. Kekenesan Chrisye betul-betul bikin kangen setengah mati.

Sesungguhnya masih ada film lain yang juga melibatkan Chrisye, seperti Gita Cinta dari SMA karya sutradara Arizal. Di sini dia melantunkan tembang abadi Galih dan Ratna ciptaan Guruh Sukarnoputra. Hanya saja, film yang satu ini tidaklah sekuat tiga judul di atas, yang bisa dijadikan rujukan untuk mengenang eksistensi Chrisye di ranah film. Namun tetap saja karya ini boleh disebut sebagai monumen penting untuk mengingat sang biduan legendaris.
 

Deretan film ini bisa juga untuk ditonton bareng para fans Chrisye sebagai obat pelipur rasa rindu. Sosoknya yang selama ini dikenal sebagai penyanyi yang ogah-ogahan dalam bergoyang di atas pentas, ternyata pernah lebih dari itu. Tak disangka, ternyata dia sejatinya adalah seniman berbakat multi talenta. Mulai dari penyanyi, pemain instrumen, pencipta lagu, penata musik, bahkan juga pemain film.


Minggu, 01 April 2018

Cerita di Balik Plat Nomor Mobil


Apakah mata anda jeli saat nonton film? Bisa jadi ini perkara penting. Pasalnya, para pembuat film tanah air lumayan jahil untuk mencantumkan trivia yang acapkali bikin geli. Melalui plat nomor mobil misalnya. Di sana kerap dijumpai hal-hal yang tak disangka-sangka. Entah itu nomor yang memang terdaftar di Samsat setempat atau dibuat-buat demi keperluan film itu soal lain.

Kasus yang paling hangat terjadi dalam film horor Danur 2: Maddah. Di sini sang karakter utama, Risa (Prilly Latuconsina) digambarkan sudah dewasa. Ceritanya dia mengemudikan sendiri mobil sedan Honda matic itu, diperlihatkan di sana nomor platnya D 411 UR. Nah, kalau sedikit dikutak-katik bacanya bisa jadi DANUR, judul film ini.

“Ah itu isengnya gue aja sih,” kata Awi Suryadi sang sutradara saat dikonfirmasi. Rupanya plat nomor itu dipakai hanya sekadar gimmick lucu-lucuan syuting. Bahkan dia pun memberikan info tambahan. Mobil properti lainnya, Mercedes Benz 1970-an yang dikendarai pamannya Risa menggunakan plat nomor D 2903. “Itu maksudnya 29 Maret, tanggal rilis awal film ini. Tanggal sebelum dimajukan sehari jadi 28 Maret.”

Kasus yang mirip di masa lalu banyak terjadi. Sutradara David Poernomo dalam film fiksi ilmiah Glitch (2009) yang dibesutnya memakai mobil sedan dengan plat B 711. Seperti diketahui, angka 711 adalah nama rumah produksi yang dipimpinnya, Dapoer 711. Dapoer di sini adalah singkatan dari namanya David Poernomo dan bukan pecahan dari komunitas pembuat film yang dipimpin oleh Hanung Bramantyo. Rupanya David hanya sekadar ingin narsis-narsisan semata.

Lain lagi dengan Rako Prijanto. Di film Merah Itu Cinta (2007) dia juga memunculkan sebuah mobil sedan dengan plat nomor unik. Nomor yang terlihat di sana B 153 KS. Iseng-iseng kalau dibaca jadi biseks. Apakah ini menjadi bagian dari plot ceritanya? Entahlah. Silakan cek saja sendiri film yang dibintangi oleh Marsha Timothy dan Gary Iskak ini.

Satu lagi temuan menarik muncul di film Rumah Dara (2010) karya Mo Brothers. Dalam salah satu adegan diperlihatkan munculnya mobil van, lagi-lagi dengan plat nomor unik. Mobil yang dimaksud kali ini dengan kode daerah Bandung: D 461 NG. Terbaca jadi DAGING. Namanya juga film slasher, ya kan. Pasti banyak cacahan daging bertebaran.



26 Maret 2018

Senin, 26 Maret 2018

Lebih Takut kepada Politisi



Pada awal Juni 2017, saya bersama beberapa rekan wartawan berangkat ke Kroasia. Di sana digelar Indonesia Movie Week (IMW), pemutaran beberapa film Indonesia di kota Zagreb dan Split. Salah satu rangkaian acaranya berupa diskusi antara sineas dan produser film Indonesia dengan aktivis film lokal.

Pagi itu saya menanti delegasi Kroasia di lobi Hotel Loop, Zagreb. Sejurus kemudian mereka mulai berdatangan dan menanti di sofa lobi sebelah luar. Saya datangi mereka dan berbincang sekenanya tentang situasi negara mereka secara umum. Mereka antara lain pengacara Pusat Audiovisual Kroasia, Josipa Dasovic, Koordinator Program Pembuatan Film Kroasia, Margarita Peric, dan produser film Boris Janovic.

“Bagaimana menurutmu Kroasia?” tanya Josipa seraya membuka obrolan santai itu.

“Wah menarik. Di sini aman ya... Perempuan bisa jalan sendiri tengah malam tanpa takut diganggu penjahat. Yang saya lihat malah lebih banyak penduduk lokal dan tak ada wajah imigran dari negara lain,” tutur saya dengan nada kagum.

“Betul. Di sini kami memang nyaris tak ada bahaya mengancam seperti copet atau orang jahat lainnya. Kalau harus takut sih, kami lebih takut kepada politisi,” sambar Margarita sambil tertawa geli sendiri.

“Ya ya. Saya sepakat itu. Kami di Indonesia pun sama saja, takut juga pada politisi...” kata saya lagi seraya ikut tertawa seolah ikut mengaminkan. 


8  Juni 2017

Senin, 19 Maret 2018

Mengemas Sosok Onggy Hianata dalam Dua Jam

Banyak figur yang kisahnya menarik untuk diangkat ke layar lebar. Salah satunya seperti Onggy Hianata ini. Nama tersebut dikenal sebagai inspirator yang bergerak dalam pembentukan character building dan sudah dikenal ke mancanegara. Setiap kali dia menggelar training pesertanya datang bahkan dari lima benua. 

Kisah hidup Onggy ternyata menarik perhatian sutradara Fajar Nugros. Semua berawal ketika dia liburan bersama sang istri ke Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur pada 2017. Di sana Fajar mendapatkan cerita unik, yaitu pengalaman seorang penduduk asli Tarakan yang mampu memberikan arti bagi keluarga dan orang sekitar mereka. Warga yang dimaksud adalah Onggy Hianata. Lantaran suka dengan spirit perjuangan itu, Fajar langsung bergerak cepat dan mengeksekusinya, hingga jadilah Terbang Menembus Langit.

Bagi Fajar ini jelas proyek yang sarat dengan tantangan. Pasalnya, dia harus menghadirkan masa lalu hingga masa kini (1970-an hingga akhir 1990-an). “Ini kisah 32 tahun yang dijadikan dalam dua jam,” ucapnya dalam sebuah obrolan akhir tahun lalu.

Nah, seperti apakah pergumulan hidup Onggy Hianata? Lelaki ini lahir di Tarakan, Kalimantan Timur (sekarang masuk wilayah Kalimantan Utara), 6 Maret 1962. Ayahnya, Ong Tjoi Moi adalah seorang pegawai toko kelontong. Mereka tinggal di rumah sederhana di kawasan Kampung Bugis, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Tarakan Barat.

Sebagai anak kedelapan dari sembilan bersaudara, kehidupan keluarga Onggy jauh dari berkecukupan. Agar bisa memenuhi kebetuhan sehari-hari, dia kerap membantu orangtua. Tak heran jika Onggy harus keluar masuk hutan mencari kayu bakar, berkebun, beternak hingga berdagang di pasar pun dilakoni. “Saking miskinnya kami, saya masuk sekolah langsung kelas 3 SD,” selorohnya dalam sebuah sesi temu blogger di kawasan Menteng, Rabu (14/3). Dia masuk SD Kampung Bugis dan dilanjutkan masuk SMP Tunas Kasih sampai tamat. Kemudian Onggy juga menggondol ijazah SMA dari Yayasan yang sama.

Hidup miskin membuat Onggy menyimpan tekad kuat untuk menapaki tangga kesuksesan. Dia memiliki impian besar dan tentu saja banyak lagi tantangan menghadang di depan. Tamat SMA dia merantau ke Surabaya untuk melanjutkan kuliah. Sambil kuliah, Onggy membanting tulang untuk menutup biaya hidup di sana. “Mulai dari pedagang keliling buku sampai membikin kerupuk ubi. Mulai dari berjualan lotre Porkas, hingga berjualan jagung bakar di depan kampus, serta ikut bisnis MLM,” paparnya sambil mengenang. Akhirnya, dia sukses meraih gelar sarjana strata 1 di Universitas Satya Widya Surabaya pada 1989.

Ternyata gelar sarjana bukan garansi sukses, tetap saja jalan berliku harus dia lalui. Tak segan Onggy melakoni sejumlah profesi untuk hidupnya sehari-hari. “Apa saja, asalkan halal,” selorohnya. Demikian pula saat memulai bisnis, dia jatuh bangun mengelolanya, namun dia terus bertahan kendati sempat terpuruk lantaran sempat kena tipu berkali-kali.

Onggy mencoba merubah nasib dengan merantau ke Jakarta. Hoki pun mulai datang menghampiri saat dia ditawari berjualan koin emas. Bisnis pemasaran jaringan rupanya memberinya tantangan baru dan ternyata meraih sukses. Dia memiliki jaringan 60.000 orang tersebar di 36 negara. Sungguh kontras jika dibandingkan kondisinya saat merintis kehidupan di Jakarta.

Cerita sukses Onggy berkecimpung dalam bisnis pemasaran membuatnya sering diundang berceramah hingga ke negara tetangga. “Sesudah semakin menghayati, saya kemudian membuka usaha baru dalam bidang pendidikan sebagai motivator. Kalau saya bisa kaya, orang lain juga pasti bisa mencapainya.”

“Impian semasa di kampung hampir semuanya kini sudah bisa saya raih,” tuturnya dengan rasa puas. Selanjutnya, Onggy juga mulai mengembangkan usaha pribadi di sektor pendidikan, yaitu Edunet International. Lembaga ini turut serta dalam proses pemberdayaan dan potensi diri manusia khususnya melalui program pembinaan mental dan pola pikir. Kegiatan utamanya berupa training Bootcamp Value Your Life yang pesertanya tak hanya dari Indonesia, bahkan berasal dari negara yang nyaris tak terbayangkan mereka akan datang seperti Mali, Guinea Bissau, Afrika Selatan dan masih banyak lagi.

Ya, Onggy memang tak henti memberikan pencerahan kepada setiap individu yang ingin meraih sukses. Dia kerap menguraikan contoh pada dirinya sendiri yang pernah mengalami pengalaman pahit. “Gagal adalah sebuah hal biasa. Namun, dari setiap kegagalan, minimal ada pelajaran berharga yang dapat dipetik, yaitu petunjuk menuju sebuah keberhasilan. Kalau saya bisa, mengapa Anda tak bersedia mengubah mindset dan ikut serta meraih sukses?"

Onggy membuktikan dirinya tetap bisa meraih sukses setelah dihantam badai kegagalan berkali-kali. “Anda juga bisa memulai dengan tidak mempunyai apa-apa, bahkan dari keadaan minus,” tandasnya dengan penuh keyakinan.

Tentang film Terbang Menembus Langit, Onggy berkomentar, “Film ini kalau orang miskin, orang yang sedang berjuang, harus nonton. Dari situ paradigmanya harus berubah. Lahir miskin itu tidak salah, tinggal di mana enggak masalah, yang penting pikirannnya harus maju. Saya terus mencari dan mencari untuk kemajuan ke depan. Makanya judul ini namanya Terbang Menembus Langit. Artinya, meraih impian yang setinggi mungkin.”

Senin, 12 Maret 2018

Usaha Keras Memutihkan Kulit



Kisah ini terjadi saat acara konferensi pers film Rumah Dara, awal Januari 2010 di bioskop Blitz Megaplex Pacific Place, Jakarta Selatan. Berawal dari seorang wartawati mengajukan sebuah pertanyaan kritis kepada duet sutradara Mo Brothers. Rupanya dia merasa tergelitik dengan fakta di film slasher tersebut yang menurutnya kurang masuk akal.

Apa pasalnya? Bayangkan saja, aktor Ario Bayu yang berkulit hitam legam itu ternyata memiliki adik yang kulitnya putih bersih, yakni Julie Estelle. Pertanyaan yang cukup masuk akal bukan? Ternyata, sang sineas tidak mau kehilangan akal, dia punya 1001 macam alasan untuk menjawabnya. Menurutnya hal itu mungkin saja terjadi di film.  

“Namanya juga kejadian di film, mbak, kan bisa aja terjadi begitu,” demikian Timothy Tjahjanto, salah satu dari duet itu, mencoba berkelit dengan lincahnya.

“Tapi sebenarnya kita tahu bakal ada yang tanya kayak gini, makanya kita tetap berusaha kok,” lanjutnya lagi. “Sebelum syuting kita sudah kasih kosmetik Tje Fuk untuk bikin kulit Ario jadi putih. Apa boleh buat, ternyata tetap gagal,” seloroh Timo dengan santai.

Sang wartawati pun hanya bisa tertegun dengan jawaban nyeleneh itu.



Januari 2010

Selasa, 06 Maret 2018

Anak Lain Nggak Begitu




Tak banyak orang tahu jika aktris senior Niniek L Karim ternyata pernah menjadi anggota Lembaga Sensor Film (LSF). Namun ternyata dia tidak kerasan berlama-lama berada di sana. Dalam tempo singkat dia mundur di tengah jalan lantaran dua alasan. 
  
“Alasan pertama, karena saya tidak punya hak bicara dengan Ketua,” kata peraih dua piala Citra ini dalam Diskusi Panel LSF di Hotel Haris Tebet, Jakarta Selatan awal Agustus 2016. Rupanya pada era itu posisi sesama anggota memang tidak egaliter.

Disusul kemudian alasan kedua. Niniek merasakan suasana kerja di sana yang sudah tidak kondusif lagi. Tentu saja kondisi ini membuat emosinya meluap dan semakin mendorong nuraninya untuk berontak. 

Niniek menuturkan salah satu contohnya. Pernah suatu ketika anaknya nonton serial detektif 21 Jump Street di layar kaca. Kebetulan saat dia ikutan nonton, dialog di dalamnya kerap terdengar makian ‘fuck you’ dan itu bertebaran sepanjang film. Tak pelak, kalimat tersebut kerap ditiru oleh sang anak yang ternyata memang belum paham apa maknanya. 

“Saya pernah bertanya ‘jadi kita hanya sensor untuk bagian yang visual? Tidak ada sensor auditif’?” tanya Niniek suatu kali kepada sejawatnya sesama anggota badan sensor.

“Ya, memangnya kenapa, bu,” jawab sang rekan seraya bertanya balik.

“Itu kan anak saya jadi meniru-niru ucapan ‘fuck you’ seperti yang dilihatnya di tv,” tukasnya.

“Ah, itu sih anak ibu aja kali. Anak lain kan nggak seperti itu,” balas sang rekan lagi.

Setelah mendapatkan jawaban demikian semakin bulat tekad Niniek untuk mundur dari institusi tersebut. 


20 Agustus 2016