Tampilkan postingan dengan label zagreb. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label zagreb. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Juli 2018

Captain Boban: Antara Sepakbola, Nasionalisme, dan Kuliner


Ada hal yang tak tercapai selama di Zagreb: singgah di restoran Zvonimir Boban di jalan Gajeva 9. Padahal letaknya tak jauh dari monumen Josip Jelacic, sebelah pasar Dolac yang pernah dipinjam jadi lokasi filmnya Jackie Chan. Dari monumen yang terletak di alun-alun kota itu lurus saja jalan kaki ke arah selatan. Sampai di sana tinggal tanya saja kalau sudah dekat tkp.  

Boban adalah legenda sepakbola bagi bangsa Kroasia. Dia bukan hanya kapten kesebelasan yang mengantar negaranya menjadi juara ketiga Piala Dunia 1998 di Perancis. Lebih dari itu, dia menjadi monumen sejarah yang pernah terukir indah di lapangan sepakbola. Bahkan ketika Kroasia masih menjadi bagian dari Republik Federal Sosialis Yugoslavia dan klub Dinamo Zagreb yang diperkuatnya masih menjadi anggota Liga Yugoslavia.

Momentum heroik Boban terjadi pada 13 Mei 1990. Ketika itu di Maksimir Stadium, Zagreb, berlangsung pertandingan antara tuan rumah Dinamo Zagreb melawan klub ibukota Red Star Belgrade. Fans mereka tak mau kalah, siap bertarung habis-habisan pula, masing-masing ada Bad Boys Blue (fans Dinamo Zagreb) dan Delije (fans Red Star Belgrade)

Suasana saat itu memanas. Seperti sudah diduga sebelumnya, pecah kerusuhan yang berbau politis. Penyebabnya lantaran beberapa pekan sebelumnya berlangsung pemilu multipartai pertama di Kroasia dan partai pemenang pemilu berharap agar Kroasia lepas dari Yugoslavia.

Di sepanjang jalanan kota, mulai terjadi bentrok beberapa jam sebelum pertandingan. Puncaknya terjadi di dalam stadion. Fans Dinamo mulai melakukan provokasi, mereka melempari lawannya dengan batu. Delije balas menyerang dengan potongan kursi dan pisau seraya menyanyikan “Zagreb adalah milik orang Serbia” serta “Kita akan bunuh Tudman”. Tudman adalah nama pemimpin Kroasia hasil pemilu. Tokoh yang kemudian namanya dipakai sebagai nama bandara di Zagreb.

Pertikaian pun mulai terjadi. Nyaris tak terkontrol lantaran jumlah massa yang memang lebih banyak ketimbang petugas keamanan. Kondisi ini akhirnya bisa diatasi aparat dengan water canon dan peralatan yang dimiliki. Chaos pun berlalu dengan membawa puluhan korban luka-luka.

Ketika kerusuhan, beberapa pemain Dinamo masih bertahan di lapangan, sementara lawan mereka sudah masuk ruang locker. Boban, sang kapten, menendang petugas polisi, Refik Ahmetovic yang bersikap kasar kepada seorang fans Dinamo. Boban dalam bahaya. Sontak Bad Boys Blue melindunginya. Tak pelak, Boban menjadi sosok yang mereka anggap sebagai pahlawan negara bersama bintang lainnya seperti Davor Suker, Slaven Bilic, Robert Prosinecki dan yang lainnya.

Namun oleh pihak Yugoslavia -dalam hal ini rezim Serbia- Boban malah dianggap sebaliknya. Alhasil, dia kena skorsing oleh PSSI-nya Yugoslavia. Tak heran jika dia tak bisa ikut Piala Dunia 1990 yang digelar di Italia.

Peristiwa ini terjadi tepat setahun sebelum kemerdekaan Kroasia. Sejak merdeka, Boban pun meninggalkan timnas sepakbola Yugoslavia yang pecah berkeping-keping. Karirnya di timnas Kroasia semakin moncer. Dari Dinamo Zagreb dia ditransfer ke kota mode Milan memperkuat rossoneri. Potensinya menarik minat pelatih Fabio Capello. Di tim nasional, dia dipercaya menjadi kapten kesebelasan dan ikut mengharumkan nama Kroasia. 

Pasca gantung sepatu pada 2001, Boban aktif menjadi kolumnis koran Gazzetta dello Sport. Kemudian sempat juga memegang jabatan di FIFA. Dan terakhir dia juga membuka restoran yang sesuai namanya: Boban, salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika singgah ke Zagreb lagi. Hanya 0,1 mil atau 150 meter dari monumen Josip Jelacic.



Juni 2017

Minggu, 24 Juni 2018

Panorama Zagreb dalam Film Mancanegara


Ibukota Kroasia, Zagreb memiliki banyak gedung tua yang sungguh memesona dan masih terpelihara dengan baik sampai saat ini. Banyak bangunan peninggalan imperium Romawi yang instagrammable. Sejauh mata memandang, tak henti-hentinya terbit rasa takjub yang tak terperikan. Bangunan antik  ini sungguh menjadi aset menarik yang bisa dieksplorasi sebagai latar cerita bagi film mancanegara.

Menurut buku saku Zagreb The Film State yang dirilis oleh Zagreb Tourism Board, banyak film yang syutingnya berlokasi di sana. Nama-nama sutradara beken yang pernah memakai tempat di sini, antara lain Orson Welles, Norman Jewison, Uwe Boll, Lee H Katzin, Jackie Chan, hingga Alan J Pakula. Sedangkan pelakon kondang yang pernah ikut syuting di Zagreb ada Richard Gere, Meryl Streep, Sharon Stone, Romy Schneider, Telly Savalas, hingga Ernest Borgnine. Berikut ini beberapa film dengan lokasi yang khas di seputaran Zagreb.

Nama Jackie Chan sebagai sutradara mungkin boleh disebutkan pada urutan pertama karena fansnya di Indonesia lumayan banyak. Dia pernah menggarap proyek laga Armour of God pada 1987. Chan berakting bersama aktris Rosamund Kwan. Salah satu lokasi yang dipakai adalah pasar Dolac, sebuah pasar tradisional terkenal di ibukota Kroasia itu. Bagi Chan, film ini tak akan pernah terlupakan, karena dia sempat mengalami kecelakaan terjatuh dengan kepala yang terbentur lebih dulu dan nyaris meninggal dunia.

Menyusul di belakangnya ada The Pope Must Die (1991) arahan Peter Richardson dan dibintangi Robbie Coltrane. Sebuah proyek komedi yang bercerita tentang keterlibatan mafia dalam keuangan gereja. Dengan atmosfer religi, film ini tentu saja mengambil lokasi di gereja Kathedral yang ramai dikunjungi turis asing. Lokasi lain yang dipakai ada Art Pavilion yang tak kalah ciamiknya.

Lantas pada 2007 ada film drama petualangan arahan Richard Shepard, Hunting Party. Proyek yang dibintangi oleh Richard Gere, Jesse Eisenberg, dan Terrence Howard ini judul aslinya adalah Spring Break in Bosnia, namun lokasinya justru di Kroasia. Tepatnya berada di hutan sebelah utara kota Zagreb, kawasan gunung Medvenica (ketinggian 1035 meter). Sebuah lokasi yang ideal untuk kucing-kucingan antara para jurnalis dengan calon pembunuh mereka.

Film karya Uwe Boll bertajuk Max Schmelling sepertinya juga menarik disimak. Kisah biografi petinju kondang di era Nazi ini sungguh terasa uniknya: ceritanya tentang orang Jerman rival petinju Joe Louis, namun lokasi yang dipakai kebanyakan malah di Zagreb. Salah satunya di Dalmatinska Street.

Bagaimana dengan kota-kota di luar Zagreb? Ternyata tak kalah rancaknya. Sebut saja kota Dubrovnik yang berjarak 600 km sebelah tenggara ibukota. Kota yang memiliki banyak bangunan antik ini malah dipakai sebagai lokasi produksi serial Game of Thrones yang tak kalah terkenalnya di sini. Bukan rahasia, jika banyak wisatawan datang ke sini dalam rangka napak tilas kerajaan yang ada dalam serial tersebut.


Juni 2017

Senin, 26 Maret 2018

Lebih Takut kepada Politisi



Pada awal Juni 2017, saya bersama beberapa rekan wartawan berangkat ke Kroasia. Di sana digelar Indonesia Movie Week (IMW), pemutaran beberapa film Indonesia di kota Zagreb dan Split. Salah satu rangkaian acaranya berupa diskusi antara sineas dan produser film Indonesia dengan aktivis film lokal.

Pagi itu saya menanti delegasi Kroasia di lobi Hotel Loop, Zagreb. Sejurus kemudian mereka mulai berdatangan dan menanti di sofa lobi sebelah luar. Saya datangi mereka dan berbincang sekenanya tentang situasi negara mereka secara umum. Mereka antara lain pengacara Pusat Audiovisual Kroasia, Josipa Dasovic, Koordinator Program Pembuatan Film Kroasia, Margarita Peric, dan produser film Boris Janovic.

“Bagaimana menurutmu Kroasia?” tanya Josipa seraya membuka obrolan santai itu.

“Wah menarik. Di sini aman ya... Perempuan bisa jalan sendiri tengah malam tanpa takut diganggu penjahat. Yang saya lihat malah lebih banyak penduduk lokal dan tak ada wajah imigran dari negara lain,” tutur saya dengan nada kagum.

“Betul. Di sini kami memang nyaris tak ada bahaya mengancam seperti copet atau orang jahat lainnya. Kalau harus takut sih, kami lebih takut kepada politisi,” sambar Margarita sambil tertawa geli sendiri.

“Ya ya. Saya sepakat itu. Kami di Indonesia pun sama saja, takut juga pada politisi...” kata saya lagi seraya ikut tertawa seolah ikut mengaminkan. 


8  Juni 2017