Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juni 2018

Dua Kali Lulus ITB


Institut Teknologi Bandung (ITB) termasuk dalam jajaran perguruan tinggi negeri bergengsi di tanah air. Dari kampus yang berlokasi di jalan Ganesha itu pernah melahirkan nama dua orang presiden RI, yakni Soekarno dan BJ Habibie. Sudah tak terhitung lagi banyaknya teknokrat negeri ini yang pernah menimba ilmu di sana. 

Pembuat film seperti Joko Anwar, Sammaria Simanjuntak, sampai Sudjiwo Tedjo, termasuk di antara insan film yang pernah mengecap bangku kuliah di almamater ini. Memang terhitung jarang calon teknokrat yang banting setir ke dunia hiburan.

Dari sekian banyak yang sedikit itu, ternyata ada juga yang sampai dua kali lulus dari kampus ITB. Hal tersebut diungkapkan oleh aktor dan sutradara Dennis Adhiswara. “Malah saya sampai lulus dua kali dari ITB...” selorohnya di sela-sela promo film Gading-gading Ganesha, di Kampus ITB, awal Februari 2010.

“Kenapa kok bisa dua kali?” tanya wartawan.

Ya, dalam film sih,” lanjut pemeran Mamet dalam Ada Apa dengan Cinta? ini. “Pertama saat di film Jomblo. Kemudian lulus lagi sebagai mahasiswa ITB di film Gading-gading Ganesha ini.

“Oh, kirain...” sambar wartawan yang merasa kecele.

Nggak apa-apa juga sih, saya tetap bangga kok meskipun hanya terjadi dalam film,” sambung cowok berkacamata ini.  

Film Gading-gading Ganesha Bahwa Cinta Itu Ada diadaptasi dari  novel alumni ITB Dermawan Wibisono. Skenario ditulis oleh Arya Gunawan dan disutradarai oleh Sudjiwo Tedjo. Sebuah kisah tentang persahabatan, cinta dan juga pencarian identitas di antara enam mahasiswa ITB di era tahun 80-an.


10 Februari 2010

Senin, 02 April 2018

Jejak Chrisye dalam Sinema Indonesia


Sebelas tahun lalu penyanyi legendaris Raden Chrismansyah Rahadi alias Chrisye tutup usia. Kepergiannya bertepatan dengan Hari Film Nasional, 30 Maret 2007. Kendati lebih dikenal di ranah musik lewat kepiawaiannya dalam bidang tarik suara, ternyata nama besar almarhum banyak meninggalkan jejak dalam blantika sinema Indonesia. Pasalnya, Chrisye sempat terlibat dalam sejumlah proyek layar lebar di tanah air. Menariknya, semua itu dilakoni dengan kiprah yang berbeda-beda, mulai dari membawakan lagu soundtrack, menata musik, bahkan sampai berakting segala. Film apa sajakah yang dimaksud?

Badai Pasti Berlalu
Setelah sempat beberapa tahun berkiprah dalam Gipsy Band, Chrisye memulai karier solonya pada 1977. Saat itu hoki pertamanya datang ketika membawakan tembang karya James F Sundah yang berjudul Lilin-lilin Kecil. Lagu ini masuk dalam album Lomba Karya Cipta Lagu Remaja yang diselenggarakan oleh Radio Prambors dan meledak di pasaran. 

Masih di tahun yang sama, Chrisye terlibat proyek legendaris Badai Pasti Berlalu. Ini merupakan album studio yang memuat lagu tema untuk film bertajuk serupa arahan sutradara Teguh Karya. Lagu-lagu yang terdapat di dalamnya diproduseri oleh Eros Djarot. Tata musik digarap oleh Yockie Soerjoprajogo, sedangkan Chrisye membawakan nyaris seluruh tembang yang ada dalam album ini dibantu oleh Berlian Hutauruk.

Saking legendarisnya, album ini masuk pada peringkat pertama dalam daftar 50 Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia edisi Desember 2007. Rupanya lantunan suara Chrisye sungguh akrab dan begitu melekat di benak banyak orang. Sedangkan Badai Pasti Berlalu dianggap sebagai idiom yang membakar semangat untuk tidak mudah menyerah.

Bagaimana dengan filmnya? Ternyata Badai Pasti Berlalu mendapatkan sambutan meriah dari publik. Laman filmindonesia.or.id mencatat proyek yang diproduseri oleh Sudwikatmono (saat itu belum menjadi raja bioskop) ini menduduki posisi kedua sebagai film terlaris di Jakarta. Menurut data Perfin tak kurang ada 212.551 helai karcis yang terjual di bioskop Jakarta. Rupanya nama bintang top macam Roy Marten, Christine Hakim, hingga Slamet Rahardjo cukup membuat penasaran khalayak.

Sepuluh tahun kemudian, film ini dibuat kembali oleh sutradara Teddy Soeriaatmadja. Bintang muda Vino G Bastian dan Raihaanun dipasang sebagai pemain utamanya. Sayang sekali proyek tersebut kandas di bioskop tanah air. Nasibnya tidak seberuntung film versi aslinya. Sedangkan album yang berisi lagu-lagu Chrisye macam Badai Pasti Berlalu atau Merpati Putih kembali didaur ulang oleh penyanyi era 2000-an seperti Ari Lasso dan Astrid. Chrisye sendiri tidak terlibat sama sekali dalam proyek yang digarap oleh komposer Andi Rianto ini.

Berakting di Film
Diam-diam suami dari Yanti Noor ini tidak hanya sekadar piawai bernyanyi. Sekali-sekali, Chrisye unjuk kebolehan untuk ikutan tampil berlakon di layar lebar. Salah satunya seperti yang dia tunjukkan dalam film Seindah Rembulan karya sutradara Syamsul Fuad. Menurut wikipedia film ini dirilis pada 1980, sedangkan JB Kristanto mencatat rilis pada 1981.

Boleh jadi film ini merupakan monumen untuk melongok sosok Chrisye yang aslinya pendiam dan sedikit kaku. Berakting bersama penyanyi Iis Sugianto dan Lidya Kandou dia malah tampak tampil lepas. Mungkin lantaran karakter yang dimainkan tak jauh-jauh juga dari dunia musik, faktor ini membuat penampilannya terasa alami dan sedap ditonton.  

Film ini sendiri memang terasa kental atmosfer musiknya, maklumlah produsernya memang seorang pencipta lagu kondang, Rinto Harahap. Rinto pula yang menulis skenarionya bersama Deddy Armand. Album soundtrack yang menjadi pengiring film ini menampilkan tembang andalan Seindah Rembulan dibawakan duet Chrisye dan Iis. Pengamat musik Denny Sakrie menyebut mereka sebagai duet yang absurd, karena memang keduanya memiliki warna musik jauh berbeda. Iis biasa membawakan tembang melankolis, sebaliknya Chrisye dikenal dengan pop kreatif.

Selain duet bersama Iis, Chrisye juga tampil solo dengan lagu  Dewi Mayang serta tembang legendaris Sabda Alam. Sejumlah penyanyi top pada masa itu juga ikut berpartisipasi dalam proyek ini seperti Grace Simon, Christine Panjaditan, dan Mariyance Mantouw.

Pada album ini, Chrisye juga menjadi penata musik bersama sang produser Rinto Harahap. Yockie Soejoprajogo batal mendukung album ini, pasalnya dia merasa tak ada kecocokan secara visi musiknya. Akhirnya Chrisye pun turun tangan dan melakukan kompromi untuk berduet dengan biduanita spesialis lagu melankolis. Komprominya begini: tembang Seindah Rembulan ciptaan Rinto Harahap sedangkan tata musiknya digarap oleh Chrisye sendiri.

Sayang sekali, tidak ada data jumlah penonton untuk film ini. Laman wikipedia hanya menyebutkan bahwa film ini diluncurkan pada tahun 1980 dan meraih kesuksesan. Satu catatan menarik dari proyek film ini adalah Chrisye pernah berkolaborasi dengan pencipta lagu melankolis sekaliber Rinto Harahap, namun Chrisye tetap bertahan pada warna musik yang menjadi ciri khasnya. 

Film Biopic
Masih tentang film terkait Chrisye, kabar mengejutkan datang pada awal Maret 2017.  Rumah produksi MNC Pictures melansir berita akan menggarap film biopic Chrisye setelah mengantungi restu dari istri almarhum Yanti Noor. Aktor beken Vino G Bastian ditunjuk sebagai Chrisye sedangkan Velove Vexia memainkan karakter Yanti. Kemudian Rizal Mantovani ditunjuk sebagai sutradaranya.

Yanti memberikan kepercayaan kepada Alim Sudio untuk menulis skenarionya. Sebuah kisah kilas balik ketika Chrisye meretas kariernya di ranah musik dan mendapatkan penolakan dari sang ayah. Gaya penulisannya sesekali jenaka, terutama ketika menggambarkan sosok Chrisye yang acapkali kikuk apalagi ketika berhadapan dengan Yanti. Selebihnya Alim mengupas figur Chrisye lebih kontemplatif, mengajak kita merenung, dan terasa dalam.  

Upaya Vino untuk membawakan karakter ini lumayan serius. Selain meniru gestur, dia harus berambut gondrong dan memasang rahang palsu di dokter gigi. Semua itu dilakukan Vino agar mendapatkan kemiripan dengan karakter Chrisye.

“Dari Vino saya mendapatkan rekan kerja yang sangat paham mengenai bagaimana menerjemahkan skrip menjadi baik. Itu yang membuat saya senang sekali,” tukas Rizal dalam jumpa pers di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, September 2017 lalu.
 
Pujian serupa juga datang dari Ferry Mursyidan Baldan, mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN RI, yang juga Ketua Komunitas Kangen Chrisye (K2C). Dia melihat Vino banyak melakukan riset serius dalam rangka pendalaman karakter. “Vino bilang ke saya, dia membaca buku yang saya terbitkan, Chrisye di Mata Media, Sahabat dan Fans, untuk menangkap lebih detail sosok Chrisye,” tukas pria kelahiran 16 Juni 1961 ini.

Menurutnya yang lebih penting untuk karakter Chrisye bukan perkara kemiripan wajah, melainkan lebih pada soal penjiwaan. “Sebagai penggemar, buat saya, siapapun yang main tidak masalah. Yang penting filmnya sudah jadi dan siap beredar,” ucap Ferry antusias.

Sambutan publik terhadap film ini terhitung lumayan baik. Dilabeli untuk usia 13 tahun, selama tiga pekan pemutaran sejak 7 Desember 2017 karcis yang terjual di bioskop mencapai 204.161 helai. Selain antusiasme masyarakat yang masih mencintai sosok Chrisye, hasil ini juga dicapai berkat upaya komunitas penggemar seperti yang dipelopori oleh Ferry misalnya.    

Penutup
Ketiga film di atas sungguh melekat dengan imaji Chrisye. Menyebut Badai Pasti Berlalu misalnya, orang tak hanya diingatkan pada sutradara maestro Teguh Karya, tapi juga pada lagu milik Chrisye yang bersuara serak-serak basah. Kemudian ketika menonton Seindah Rembulan orang dibuat semakin gemas melihat akting Chrisye yang apa adanya di sana. Apalagi versi biopic dari Rizal Mantovani dengan sosok Chrisye yang dibawakan Vino G Bastian. Kekenesan Chrisye betul-betul bikin kangen setengah mati.

Sesungguhnya masih ada film lain yang juga melibatkan Chrisye, seperti Gita Cinta dari SMA karya sutradara Arizal. Di sini dia melantunkan tembang abadi Galih dan Ratna ciptaan Guruh Sukarnoputra. Hanya saja, film yang satu ini tidaklah sekuat tiga judul di atas, yang bisa dijadikan rujukan untuk mengenang eksistensi Chrisye di ranah film. Namun tetap saja karya ini boleh disebut sebagai monumen penting untuk mengingat sang biduan legendaris.
 

Deretan film ini bisa juga untuk ditonton bareng para fans Chrisye sebagai obat pelipur rasa rindu. Sosoknya yang selama ini dikenal sebagai penyanyi yang ogah-ogahan dalam bergoyang di atas pentas, ternyata pernah lebih dari itu. Tak disangka, ternyata dia sejatinya adalah seniman berbakat multi talenta. Mulai dari penyanyi, pemain instrumen, pencipta lagu, penata musik, bahkan juga pemain film.


Minggu, 05 Februari 2017

Antara Dian Sastrowardoyo, HOOQ, dan Karakter Cinta



Film Ada Apa dengan Cinta 2? sukses meraih jutaan penonton pada 2016 lalu. Tak heran jika produser Mira Lesmana pun senang bukan main. Kendati terpaut belasan tahun dari prekuelnya, proyek ini tetap memicu rasa penasaran publik untuk berduyun-duyun menyaksikannya. Rupanya karakter pasangan Rangga dan Cinta sudah memikat jauh di dalam kalbu para pecintanya. 

Setelah rilis di bioskop kontan diburu turunannya. Stasiun televisi dan video on demand misalnya. Dalam kasus film ini Mira punya hak istimewa. Ketika diumumkan ke publik bahwa proyek ini siap dieksekusi, pihak video on demand dan televisi sudah duluan mengikat kontrak kerjasama dan mengucurkan dana kontan. Biasanya, kalau produknya biasa-biasa saja pihak rumah produksi cukup susah payah untuk menjajakan kepada mitranya.

Tidak heran, jika HOOQ penyedia jasa layanan video on demand merasa bangga saat memperkenalkan film ini sebagai salah satu konten mereka. Saat peluncurannya di sebuah kafe di kawasan Menteng, mereka mengundang duet abadi pemeran Rangga dan Cinta, yakni Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo Juli 2016 lalu.  
 
Tentu saja mereka sedikit berpromosi apa sih kelebihan memakai HOOQ. “Saya sih kalau kena macet di jalan, masuk ke apps HOOQ di henpon saya, nonton film deh” tutur pelakon yang mengawali kariernya dari film Bintang Jatuh ini. Dia mengaku merasa terbantu untuk mengusir kejenuhan di tengah kemacetan. Harga belangganannya pun relatif tidak mahal.

Saat ditanya apa komentarnya atas tokoh Cinta. Diam-diam, pemeran tokoh Kartini ini tidak menyukai sosok yang dia perankan. “Dia itu karakter yang irritated. She irritates me a lot. Ngapain sih ini cewek, ribet banget...,” demikian ucapnya dengan nada kenes.

“Kalau aku temanan sama dia, pasti bakal banyak berantemnya...” seloroh Dian tanpa bermaksud melucu.


29 Juli 2016