Tampilkan postingan dengan label horor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label horor. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 April 2018

Cerita di Balik Plat Nomor Mobil


Apakah mata anda jeli saat nonton film? Bisa jadi ini perkara penting. Pasalnya, para pembuat film tanah air lumayan jahil untuk mencantumkan trivia yang acapkali bikin geli. Melalui plat nomor mobil misalnya. Di sana kerap dijumpai hal-hal yang tak disangka-sangka. Entah itu nomor yang memang terdaftar di Samsat setempat atau dibuat-buat demi keperluan film itu soal lain.

Kasus yang paling hangat terjadi dalam film horor Danur 2: Maddah. Di sini sang karakter utama, Risa (Prilly Latuconsina) digambarkan sudah dewasa. Ceritanya dia mengemudikan sendiri mobil sedan Honda matic itu, diperlihatkan di sana nomor platnya D 411 UR. Nah, kalau sedikit dikutak-katik bacanya bisa jadi DANUR, judul film ini.

“Ah itu isengnya gue aja sih,” kata Awi Suryadi sang sutradara saat dikonfirmasi. Rupanya plat nomor itu dipakai hanya sekadar gimmick lucu-lucuan syuting. Bahkan dia pun memberikan info tambahan. Mobil properti lainnya, Mercedes Benz 1970-an yang dikendarai pamannya Risa menggunakan plat nomor D 2903. “Itu maksudnya 29 Maret, tanggal rilis awal film ini. Tanggal sebelum dimajukan sehari jadi 28 Maret.”

Kasus yang mirip di masa lalu banyak terjadi. Sutradara David Poernomo dalam film fiksi ilmiah Glitch (2009) yang dibesutnya memakai mobil sedan dengan plat B 711. Seperti diketahui, angka 711 adalah nama rumah produksi yang dipimpinnya, Dapoer 711. Dapoer di sini adalah singkatan dari namanya David Poernomo dan bukan pecahan dari komunitas pembuat film yang dipimpin oleh Hanung Bramantyo. Rupanya David hanya sekadar ingin narsis-narsisan semata.

Lain lagi dengan Rako Prijanto. Di film Merah Itu Cinta (2007) dia juga memunculkan sebuah mobil sedan dengan plat nomor unik. Nomor yang terlihat di sana B 153 KS. Iseng-iseng kalau dibaca jadi biseks. Apakah ini menjadi bagian dari plot ceritanya? Entahlah. Silakan cek saja sendiri film yang dibintangi oleh Marsha Timothy dan Gary Iskak ini.

Satu lagi temuan menarik muncul di film Rumah Dara (2010) karya Mo Brothers. Dalam salah satu adegan diperlihatkan munculnya mobil van, lagi-lagi dengan plat nomor unik. Mobil yang dimaksud kali ini dengan kode daerah Bandung: D 461 NG. Terbaca jadi DAGING. Namanya juga film slasher, ya kan. Pasti banyak cacahan daging bertebaran.



26 Maret 2018

Rabu, 28 Desember 2016

Dua Minggu Syuting Dua Minggu Datang Bulan



Rumah produksi K2K Productions memiliki resep tersendiri dalam membuat film. Salah satunya dilakoni  dengan membuat judul-judul jenaka seperti Mas Suka Masukin Aja, Pijat Atas Tekan Bawah, atau Darah Janda Kolong Wewe. Hasilnya pun tidak jelek juga. Proyek buatannya kerap mendapat sambutan baik dari khalayak.


Awal 2010, publik kembali dibuat tersenyum. Maklumlah, proyek anyar dari produser KK Dheeraj ini diberi label Hantu Puncak Datang Bulan. Ada apa ya, kok diberi judul seperti itu? So pasti ada riwayat tersendiri yang menarik untuk dituturkan.


Salah satu pemainnya, Tesa Mariska mengisahkan saat konferensi pers di restoran Planet Hollywood, Jakarta. “Kata Puncak, karena syutingnya memang di daerah Puncak," katanya. Nah, bagaimana dengan frasa "datang bulan"?

“Kalau soal itu, ini kan film yang banyak buka-bukaan,” lanjut seleb yang sempat ikutan jadi caleg pada Pemilu 2009 ini. Tesa rupanya merasa kurang nyaman untuk melakukan adegan syur di film itu. “Saya agak malu untuk beradegan sensual. Ya saya sih maunya bermain sesuai skenario, dan memang tidak ada ditulis di skenario, jadi saya tidak mau.”     

"Lantas, apa kiatnya agar selamat dari adegan buka-bukaan itu?" tanya wartawan.

“Ya, saya mengaku sedang datang bulan,” lanjutnya kalem. “Jadi setiap syuting kalau disuruh buka sedikit, saya tetap mengaku datang bulan.  Jadi dua minggu syuting, ya dua minggu datang bulan...”



Desember 2010

Selasa, 14 Juni 2016

Gara-gara Kehabisan Ide



Kendati pernah meraih Piala Citra sebagai sutradara terbaik FFI 2004, sutradara Rudi Soedjarwo tak segan-segan untuk menerima proyek film horor. Setelah pernah melansir beberapa judul macam Pocong 2 dan 40 Hari Bangkitnya Pocong, tahun 2009 dia menggarap satu lagi produk anyar untuk Rapi Films. Judulnya Hantu Rumah Ampera. 
   
“Sebenarnya ada kisah unik di balik judul ini,” ungkap pria bertubuh jangkung ini saat ditemui di lobi bioskop XXI FX Platinum. Pagi itu rupanya digelar screening untuk wartawan.

Rudi menuturkan awalnya dia diminta pihak Rapi Films untuk membuat sebuah film horor. Sejenak dia sempat merasa bimbang, lantaran banyak khazanah horor di negeri ini yang sudah dieksploitasi. “Ah, bikin apa ya? Sempat kehabisan ide juga,” cerita dia dengan jujur.

Tak mau lama-lama berpikir, Rudi menawarkan ide cerita yang berawal dari tempat tinggalnya di kawasan jalan Ampera, Jakarta Selatan. “Nah, mulai aja dari jalan Ampera. Terus digabung deh dengan kisah drama. Ya, jadi deh film horor,” ungkapnya dengan mimik lega.   


April 2009