Tampilkan postingan dengan label ian jacobs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ian jacobs. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Mei 2016

Nama Baru Sang Sineas


Tidak semua rumah produksi menyediakan waktu untuk konferensi pers film buatannya. Penyebabnya macam-macam dan biasanya sangat teknis. Namun, proses wawancara tetap harus dilakukan, entah bagaimanapun caranya. Itu prinsip yang saya pegang.

Salah satunya ketika saya menulis tentang film Merem Melek di tahun 2008. Film komedi ini dibuat oleh Mitra Pictures yang saat itu tidak pernah memberikan kesempatan preview film untuk wartawan. Konon rumah produksi ini berafiliasi dengan MD Pictures, namun dibantah produser Manoj Punjabi saat dikonfirmasi.

Kebetulan saya sudah pernah melakukan wawancara dengan penulis skenarionya, Viva Westi. Jadi, tinggal angkat telepon saja. Kami pun ngobrol panjang lebar seputar proses kreatifnya. Ujung-ujungnya saya minta nomor kontak sutradara film ini, yakni Ian Jacobs. Ternyata jawabannya sungguh mengejutkan.

“Telepon aja Nayato,” ucap Westi dari seberang sana.

“Kok Nayato?” tanya saya dengan nada heran.

“Iya. Nomor Ian Jacobs sama kok dengan nomor Nayato,” lanjutnya kalem.  

Kontan saya terbengong-bengong dibuatnya. 



2008


Jumat, 01 April 2016

Kemarin Apa, Hari Ini Apa



Sutradara Nayato Fionuala bukan saja dikenal dengan banyak nama. Mulai dari Koya Pagayo, Pingkan Utari hingga Ian Jacobs semua menjadi merek dagangnya. Bang Nay, demikian para aktor memanggil namanya, juga banyak dikenal lantaran selalu kebanjiran order proyek film. Tahun 2009 sejumlah 8 judul beredar di bioskop dengan namanya di posisi sutradara, Tahun 2010, sebanyak 5 judul sudah disiapkannya dalam tempo 3 bulan.

Film karya Nayato juga dikenal dengan tata fotografinya yang ciamik. Tak jarang dia mengeksekusinya dengan spontan di lokasi, shot list itu macam sudah menempel di kepalanya tanpa harus dirancang nanti mau begini atau begitu. Pokoknya kalau sudah di lokasi, atur-atur sebentar langsung beres. Maklumlah, dia juga merangkap menjadi penata artistik.

Tapi, ada tapinya. Jangan tanya perkara cerita dalam film buatannya. Penonton dibuat pening setiap nonton karya-karya pria kelahiran Aceh ini. Rekan-rekan sang sineas sempat pula mengingatkannya. Dalam satu kesempatan, seorang rekan sutradara pernah bercerita tentang hal itu kepada saya.      

“To, gambar-gambar di film lu memang oke. Tapi, perhatiin cerita juga dong...,” ujar sang rekan memulai kisahnya di sebuah mal.

“Aduh...” keluh Nayato, “... bagaimana mau mikirin cerita. Kemarin gua syuting apa, hari ini gua syuting apa, besok syuting apa. Ya lupa sama cerita,” demikian rekan sutradara ini menirukan obrolannya saat itu.

Mendengar hal itu langsung saja kami tertawa. 



(20 Februari 2010)