Kamis, 20 September 2018

Ferry Mursyidan Baldan Kembali Terbitkan Buku Tentang Chrisye


Ketika seorang penggemar tergila-gila kepada idolanya, apapun akan dilakukan demi cintanya. Hal tersebut dilakoni seorang Ferry Mursyidan Baldan yang ngefans berat kepada penyanyi legendaris Chrisye. Tahun ini menjadi tahun kesebelas kepergian Chrisye, Ferry meluncurkan buku ketiga tentang sang idola.

“Kita mengekspresikan dengan cara kita untuk terus-menerus melakukan rangkaian penghormatan tahunan terhadap karya besar dan jasanya bagi musik pop Indonesia. Kini melalui buku 11 Tahun Kangen Chrisye, tentang bagaimana almarhum Chrisye terus menerus pula melekat dalam jiwa dan ingatan teman-teman jurnalis,” ucap Ferry di kafe Aruba, Blok M, Jakarta Selatan, Senin (17/9).


Buku ini merupakan kompilasi dari 29 buah artikel yang ditulis oleh kalangan wartawan media cetak dan online seputar Chrisye antara 30 Maret-5 April 2018 lalu. Temanya berkaitan dengan kiprah Chrisye semasa hidupnya, mulai dari lagu-lagu, musik, film, dan masih banyak lagi.

Sebelumnya, Ferry pernah menggagas dua buku lainnya berkaitan dengan sang legenda. Pada 2012 dia meluncurkan Chrisye, Kesan di Mata Media, Sahabat dan Fans. Kemudian tahun lalu pada peringatan sepuluh tahun meninggalnya Chrisye, Ferry kembali melansir 10 Tahun Setelah Chrisye Pergi: Ekspresi Kangen Penggemar.

Ferry yang juga aktivis K2C (Komunitas Kangen Chrisye) ini berjanji untuk menginisiasi dan menerima gagasan yang berkaitan dengan penggemar lagu-lagu Chrisye. Menurutnya, masih banyak pecinta musik Indonesia yang menganggap posisi Chrisye tak tergantikan dalam industri musik pop di tanah air.

“Banyak orang yang tahu kalau saya penggemar berat Chrisye. Kalau saya ke Stasiun (KA) Bandung, di Warung Sate Haris di Bandung dan Bubur Ayam Mang Haji Oyo, setiap kali datang diputar lagu-lagu Chrisye, bahkan sampai saya keluar dari tempat itu,” tuturnya antusias.

Tentu saja kecintaan Ferry kepada Chrisye masih belum berakhir. Sejalan dengan inspirasi warga masyarakat, dia menerbitkan kartu e-toll bergambar sosok Chrisye. “Kita akan cetak lebih banyak lagi agar bisa menjadi koleksi yang berguna,” seloroh mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional ini.

Jumat, 14 September 2018

Sekuel Emak Ingin Naik Haji


Di tengah maraknya film yang bertema nyaris seragam, Emak Ingin Naik Haji muncul ke permukaan. Tak disangka, proyek yang dieksekusi oleh sineas Aditya Gumay itu  mampu menuai sukses. Rupanya kisah drama religi yang disuguhkan di dalamnya sungguh menyentuh perasaan. Setidaknya ratusan ribu penonton sempat menyaksikannya di layar bioskop pada akhir 2009. Belum lagi apresiasi yang diterima di sejumlah festival film.

Sudah menjadi kebiasaan sebuah film yang sukses akan diikuti oleh sekuelnya. Konon, demikian pula dengan produk yang ikut dibiayai oleh Mizan Production  ini. Kebiasaan ini membuat seorang wartawan iseng untuk bertanya kepada pihak pembuat film. Kali ini yang ditanya adalah Putut Wijanarko, produser Mizan.  

“Pak, katanya film Emak Ingin Naik Haji ada rencana untuk dibuatkan sekuel?” demikian pancing rekan wartawan tersebut.

“Oh ya? Anda kata siapa?” jawab Putut.

“Ya pak. Ada yang bilang,” sambar sang rekan.

“Memang judulnya apa?” balas sang produser.

Emak Ingin Naik Ferrari,” timpal si wartawan dengan nada jahil.



Desember 2009

Sabtu, 25 Agustus 2018

Apa Hasilnya Setelah Bertapa?


Setelah lama menghilang akhirnya sineas Teddy Soeriaatmadja bikin film lagi. Pertengahan Agustus lalu dia mengumumkan baru saja membuat proyek terbarunya yang bertajuk Menunggu Pagi. Sebuah film tentang anak muda yang dibiayai oleh IFI Sinema.

Menunggu Pagi menjadi penanda kembalinya Teddy ke ranah film komersial. Terakhir kali dia melansir Lovely Man yang diputar di bioskop pada 2012. Film ini sukses mengantar pemeran utamanya Donny Damara meraih Piala Citra pada ajang FFI 2012. Setelah itu nama Teddy nyaris tak terdengar.

Tak urung, kembalinya sang sutradara  membuat wartawan yang hadir dalam konferensi pers bertanya-tanya: kemana saja pembuat Banyu Biru ini selama bertapa.  

“Ya saya membuat trilogi kan. Trilogi keintiman, tiga judul yang personal buat saya, setelah  
Lovely Man, saya buat Something in the Way bersama pemain Reza Rahadian dan About Woman, pemainnya Tutie Kirana,” tuturnya kalem.”Dan filmnya hanya diputar di festival, bukan bioskop komersial.”

Rupanya rekan wartawan ini kurang mengikuti perkembangan film-film di luar arus utama. “Terus apa lagi?” kejar sang wartawan penasaran.

“Selain bikin trilogi itu saya juga jadi punya anak ketiga. Ya, saya membesarkan tiga anak...”



25 Agustus 2018

Jumat, 27 Juli 2018

Balas Dendam Ala Insan Film


Yang namanya seniman konon suka saling menjahili sesama koleganya. Apalagi bagi insan film, perkara jahil menjahili itu sudah biasa. Bentuknya pun bisa macam-macam, yang paling sering disuruh datang ke lokasi oleh sutradara, tahu-tahu jadi cameo.

Kasus yang satu ini beda lagi. Kadang-kadang nama orang yang ada dalam kehidupan nyata dimasukkan dalam cerita fiksi. Masih ingat nama Triveni dibikin jadi nama anjing dalam film Beth-nya sutradara Aria Kusumadewa? Aria sendiri juga menjadi korban kejahilan koleganya. Namun dengan lincah dia berhasil membalas keisengan itu, kendati mesti menanti dalam waktu yang lama. 
  
Peristiwa itu berawal ketika Labbes Widar menggarap proyek Lagu Untuk Seruni pada milenium silam. Sebuah film yang ceritanya mirip dengan Kramer vs Kramer karya Robert Benton. Karakter utama yang dimainkan aktor Tio Pakusadewo menggunakan nama lengkap Aria Kusumadewa. Akting Tio ternyata menarik perhatian juri dan mengantarnya sebagai aktor terbaik dalam FFI tahun 1991.

Dua dekade kemudian Aria menuntaskan dendam kesumatnya. Dia balas menjahili sutradara Labbes Widar lewat proyek Identitas. Aktor Tio tetap dipakai dan memaksa Labbes untuk ikutan bermain di sana. Bisa dibayangkan, Labbes disuruh-suruh oleh Aria. 

Akhirnya Identitas akhirnya mencatat prestasi gemilang pada FFI 2009. Film ini meraih 4 Piala Citra dari 9 nominasi. Di antaranya untuk aktor Tio bersama sutradara Aria Kusumadewa.
  
Dulu Aria sebal, Tio menang. Kini Aria senang, Tio juga menang. 



Januari 2010

Jumat, 13 Juli 2018

Film Berbahasa Indonesia Terbaik


Ada-ada saja cerita tentang Festival Film Indonesia (FFI). Berikut ini ada pengalaman yang dikisahkan oleh rekan wartawan senior Wina Armada. Ketika itu dia menjabat sebagai Ketua Panitia Pelaksana FFI 2007 di Pekanbaru, Riau. 

“Jadi pemda setempat ingin ada kategori khusus untuk film dengan penggunaan bahasa Indonesia terbaik,” ungkapnya dalam sebuah obrolan di Hotel Haris FX Sudirman, pertengahan April 2018 lalu.

Seperti diketahui Riau merupakan propinsi yang identik dengan bahasa Melayu. Dalam perkembangannya, bahasa ini disepakati sebagai bahasa pemersatu bangsa yang akhirnya dikenal sebagai bahasa Indonesia. Maka permintaan pemerintah setempat kepada panpel FFI masih terasa wajar-wajar saja.

“Di luar dugaan, ternyata film-film yang masuk dalam kategori itu kebanyakan malah film hantu-hantuan,” seloroh Wina sambil tertawa. “Bayangkan, kalimat seperti ‘di mana anakku?’ itu kan adanya di film horor... Ternyata hantu sekalipun berbahasa dengan santun.”

Selanjutnya temuan ini dilaporkan kepada pihak pemda. Alhasil, mereka pun jadi serba salah dibuatnya, tidak menyangka bakal seperti ini jadinya. Apapun yang terjadi, the show must go on. Dewan juri tetap bekerja seperti biasa dan memilih pemenang sesuai kriteria yang sudah disepakati sejak awal.

Akhirnya diketahui pemenangnya adalah film Kala, sebuah film noir karya sutradara Joko Anwar. Ini memang bukan film horor, tapi tetap saja ada adegan semacam penampakan yang muncul di sana. 




Mei 2018