Tampilkan postingan dengan label drama religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label drama religi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 September 2018

Sekuel Emak Ingin Naik Haji


Di tengah maraknya film yang bertema nyaris seragam, Emak Ingin Naik Haji muncul ke permukaan. Tak disangka, proyek yang dieksekusi oleh sineas Aditya Gumay itu  mampu menuai sukses. Rupanya kisah drama religi yang disuguhkan di dalamnya sungguh menyentuh perasaan. Setidaknya ratusan ribu penonton sempat menyaksikannya di layar bioskop pada akhir 2009. Belum lagi apresiasi yang diterima di sejumlah festival film.

Sudah menjadi kebiasaan sebuah film yang sukses akan diikuti oleh sekuelnya. Konon, demikian pula dengan produk yang ikut dibiayai oleh Mizan Production  ini. Kebiasaan ini membuat seorang wartawan iseng untuk bertanya kepada pihak pembuat film. Kali ini yang ditanya adalah Putut Wijanarko, produser Mizan.  

“Pak, katanya film Emak Ingin Naik Haji ada rencana untuk dibuatkan sekuel?” demikian pancing rekan wartawan tersebut.

“Oh ya? Anda kata siapa?” jawab Putut.

“Ya pak. Ada yang bilang,” sambar sang rekan.

“Memang judulnya apa?” balas sang produser.

Emak Ingin Naik Ferrari,” timpal si wartawan dengan nada jahil.



Desember 2009

Sabtu, 12 November 2016

Mungkin Hanya Itu yang Mereka Tahu



Nurman Hakim adalah nama salah satu sutradara yang konsisten dalam membuat film berlatar religi. Maklum, dia memang lahir dari kalangan pesantren. Tak heran jika kisah-kisah yang diusungnya terasa cukup kuat, buktinya sempat beberapa kali filmnya masuk nominasi FFI.   

Berkaitan dengan film religi, saya sempat wawancara dengannya sekitar April 2016. Topiknya soal isu poligami yang tampaknya amat digandrungi oleh pembuat film di sini. “Kenapa kok di Indonesia orang bikin film drama religi tapi sebatas membahas isu poligami?” 

Mungkin yang mereka tahu bahwa urusan poligami selalu berhubungan dengan agama,” tukas Hakim sambil tertawa,”... jadi mereka malas untuk membahas tema lain dalam agama yang sebenarnya sangat luas.

“Oh ya... kok bisa begitu ya?” tanya saya lagi.

Karena mungkin dianggap sesuatu yang menarik. Atau bisa saja itu adalah representasi dari penonton kita yang secara alam bawah sadar ingin tahu dunia poligami itu seperti apa,” seloroh suami sutradara Nan T Achnas ini.

“Atau ada kemungkinan para penonton mau mencoba menambah istri?” lagi-lagi saya sambar.

“Ya, bisa. Mungkin suatu saat mereka akan coba...” lanjutnya masih sambil tertawa.  



12 November 2016