Tampilkan postingan dengan label tentara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Agustus 2016

Kami Sudah Berubah



Peristiwa ini terjadi dalam sebuah diskusi panel yang digelar oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Dua sesi sudah dilalui dan siap ditutup karena waktu sudah mendekati saatnya shalat Jumat. Tetapi moderator masih memberi kesempatan Ketua LSF, Ahmad Yani Basuki untuk memberikan kata penutup.

“Paradigma LSF saat ini sudah berubah, tidak seperti dulu lagi. LSF saat ini kerjanya bukan lagi menggunting-gunting film…” tutur mantan Staf Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini. “Meskipun saya berasal dari kalangan tentara, namun saya memiliki jiwa reformis,”

Sang moderator yang juga anggota LSF melihat pimpinannya mulai kepanjangan bicara, dengan cepat dia memotong,”Ehem... Maaf pak, mohon dipercepat…”

“Nah kan, ini bukti kalau LSF sudah berubah. Dulu mana bisa kayak begini, anggota memotong ketua lagi ngomong. Saya kan ketua,” tukas Yani kepada mereka yang hadir.

“Ya, tapi di sini saya kan moderator pak. Pimpinan diskusi ini,” lanjut sang anak buah kalem.

Hadirin pun kontan tertawa melihat ulah mereka.



20 Agustus 2016 

Senin, 08 Agustus 2016

Enaknya Kerja Bareng Jenderal



Berkat kemajuan teknologi, membuat film di Indonesia saat ini menjadi lebih mudah. Namun jika sudah menyangkut perizinan, itu perkara yang tidak mudah. Kalaupun bisa diperoleh, acapkali merepotkan dan biayanya lumayan mahal. Apalagi jika harus menggunakan objek vital, bakalan kian sulit lagi. Hal itu yang dirasakan sendiri oleh produser sekaliber Zairin Zain.

Namun kegelisahan Zairin mendadak sirna saat menggarap film yang bertajuk I Leave My Heart in Lebanon-Garuda 23. Sebuah proyek prestisius dari TB Silalahi Pictures di semester awal 2016. Ide produksinya berawal dari Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Orang nomor 1 di jajaran TNI ini meminta Silalahi untuk dibuatkan film yang menggambarkan prestasi serdadu Indonesia di mancanegara. Sang purnawirawan mayor jenderal pun kontan mengiyakan.

Selanjutnya, Zairin ditunjuk sebagai produser. Proses persiapan pun dimulai. Tim produksi segera dibentuk, kru dan pemain mulai dicari. Skenario ditulis oleh sang sutradara Benni Setiawan, menceritakan balada pasukan penjaga perdamaian alias Garuda di Lebanon dengan latar sedikit kehidupan keluarganya di tanah air.    

“Saya melapor ke pak TB Silalahi soal perizinan lokasi. Eh malah dijawab ‘apa izin-izin… Telepon aja’. Lalu dia telepon perwira yang menjadi pimpinan di situ. Besoknya kita yang ditanya dari sana ‘halo pak, mau kapan pakai lokasi syuting di sini’ Begitu…,” demikian ceritanya dalam sebuah kesempatan buka puasa di kawasan Panglima Polim, Jakarta Selatan, Juni 2016.

Setelah itu perasaan insan film senior ini mulai plong. Salah satu hambatan besar dalam produksi bisa teratasi.  “Wah… Enak juga kalau hidup kayak begini…” seloroh Zairin dengan perasaan senang.



22 Juni 2016