Tampilkan postingan dengan label lukman sardi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lukman sardi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Oktober 2016

Parfi dan Faksi-faksi Wadah Artis Film


Senin, 29 Agustus 2016 saya berjumpa rekan Teguh Imam Suryadi di Bandara Soetta Tangerang. Dia baru saja mendarat dari Lombok ikut kongres Parfi dan akan melanjutkan perjalanan ke Pontianak. Rupanya dia membawa kabar mengejutkan: Ketua Parfi terpilih Aa Gatot Brajamusti ditangkap polisi atas tuduhan kasus narkoba. Sejak itu sosok flamboyan Aa Gatot menjadi buah bibir media sampai saat ini.

Selain nama Gatot, organisasi profesi Persatuan Artis Film Indonesia pun jadi sorotan. Pasalnya, posisi Ketua Parfi segera berpindah dalam tempo beberapa hari. Alasannya, keterlibatan yang bersangkutan dalam kasus narkoba menjadi faktor kuat untuk mencopotnya dari posisi Parfi-1.

Ketua DPO Parfi Aspar Paturusi segera menetapkan Andryega Da Silva sebagai Ketua Umum Parfi yang baru untuk periode 2016-2021 dalam jumpa pers di gedung PPHUI, Kuningan, 31 Agustus 2016. Andryega diberi kesempatan selama 30 hari untuk menyusun anggota pengurus organisasinya.

Apakah persoalan Parfi sebagai wadah organisasi para artis film selesai sampai di situ? Ternyata tidak juga. Mereka yang memilih berada di luar pagar pun mencoba untuk eksis. Parfi 1956 misalnya. Nama-nama yang ada di dalamnya seperti Debby Cynthia Dewi, Ki Kusumo, Ray Sahetapy, Widyawati, Erna Santoso, Nani Wijaya, Atalarik Syach, Ardina Rasty, dan Marcella Zalianty.

Faksi ini menilai Parfi yang ada saat ini dinilai sudah tak sesuai dengan tujuan utamanya saat dibentuk pada 1956. Akhirnya mereka sepakat untuk membentuk rumah baru bernama Parfi 1956. Nama Marcella Zalianty muncul terpilih sebagai Ketua dalam sebuah musyawarah kekeluargaan di kawasan Kemang, 1 September lalu.

Di luar Parfi masih ada sejumlah wadah organisasi artis lainnya, yakni Parsi dan RAI. Parsi singkatan dari Persatuan Artis Sinetron Indonesia kemudian mulai periode 2016-2021 ganti nama menjadi Persatuan Artis Sinema Indonesia. Masih dipimpin oleh Anwar Fuady, pengurus Parfi berasal dari nama-nama tenar di layar kaca seperti Nikita Willy, Raslina Rasyidin, Ben Kasyafani, Citra Kirana, Marini Zumarnis, Ammar Zoni, Dude Harlino, Meidiana Hutomo, Raffi Ahmad, El Manik, Latief Sitepu, dan Derry Drajat.   

Sedangkan RAI atau Rumah Artis Indonesia, dideklarasikan pada September 2013 di Gedung Sapta Pesona, Kemenpar bersama beberapa wadah insan film yang tergabung dalam IMPAS (Indonesian Motion Picture Associations). Tepat beberapa bulan sebelum diadakan hajat Mubes BPI (Badan Perfilman Indonesia), Januari 2014.

Sang ketua Lukman Sardi menyebutkan institusi ini lahir berawal dari kegelisahan. Maka 30-40 aktor berkumpul dan sepakat mendirikan sebuah wadah independen. “Rencananya bulan mendatang akan ada Mubes untuk menentukan arah selanjutnya. Sekalian agar ada regenerasi,” demikian ucap Lukman saat saya tanya pada Desember 2014.

Suasana hiruk-pikuk ini terasa aneh. Kok mendadak mereka jadi rajin berserikat. Apakah lahirnya banyak wadah artis ini sebagai antisipasi terhadap Mubes BPI yang akan digelar awal 2017 mendatang? Entahlah.


3 Oktober 2016

Rabu, 13 April 2016

Rahasia di Balik Judul



Tahun 2008, film Kawin Kontrak Lagi dirilis menyusul sukses penduhulunya, Kawin Kontrak. Rilisnya termasuk cepat, hanya berselang kurang dari setahun. Film komedi sekuel arahan sutradara Ody C Harahap ini kembali menampilkan muka lama macam Lukman Sardi, Ricky Harun hingga Wiwid Gunawan. Ternyata Ochay, demikian sapaannya, menyimpan cerita unik di balik judul tersebut.

”Itu awalnya gara-gara produser MVP Pictures meminta saya membuat sekuel menyusul suksesnya Kawin Kontrak,” demikian sutradara yang mengawali debutnya lewat Bangsal 13 ini memulai ceritanya.

Pasca pertemuan dengan pihak produser, pria Batak ini segera menyampaikan kabar baik tersebut kepada para krunya. “Eh, reaksinya malah bilang ’Hah... kawin kontrak lagi...’,” terang Ochay lagi sembari tertawa geli.

Mendapat reaksi macam itu justru dia tanggapi secara positif. ”Wah, kalimat kawin kontrak lagi sepertinya bakal lucu kalau dibuat judul sekuelnya,” sambungnya lagi. Selanjutnya dia mengusulkannya kepada koleganya, penulis Joko Nugroho untuk menggunakan frasa tersebut sebagai judul proyek yang akan digarap.

Belakangan, usulan itu kemudian diterima oleh pihak rumah produksi.



(12 Agustus 2010)